Mengapa Kita Harus Bersolidaritas untuk Venezuela?

Mengapa Kita Harus Bersolidaritas untuk Venezuela?
Salam solidaritas dari FSEDAR untuk Revolusi Bolivarian

Saat ini situasi Venezuela sedang bergolak karena intervensi Amerika Serikat untuk menggulingkan Presiden terpilih Nicolas Maduro. Maduro memiliki latar belakang kelas pekerja, seorang supir bus. Maduro menjadi Wakil Presiden Venezuela dan menjadi Presiden pada 2013 menggantikan Hugo Chavez yang meninggal (diduga dibunuh).

Dalam Pemilihan Presiden 20 Mei 2018, Maduro memenangkan pemilihan dengan meraih lebih dari 6,2 juta suara dari 9 juta pemilih. Suara Maduro selisih 47% dari calon usungan kelompok oposisi, Henry Falcón yang meraih sekitar 1,9 juta suara.

Maduro melanjutkan program-program kerakyatan yang sudah dimulai Chavez sejak 1998 yang sangat menguntungkan rakyat pekerja, di antaranya kenaikan upah rata-rata 30-40 persen per tahun, membolehkan buruh mengambil-alih perusahaan yang lockout, pendidikan gratis untuk semua (termasuk untuk buruh), kesehatan gratis, dan sebagainya. Venezuela membiayai program-program ini dari penjualan minyak dimana Venezuela adalah negeri penghasil minyak terbesar di dunia.

Venezuela juga aktif memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk menjadi penyumbang terbesar untuk korban bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah. Meskipun dalam keadaan krisis, Venezuela menyumbang USD 10 juta atau sekitar Rp150 miliar untuk bencana di Sulawesi Tengah. Bandingkan dengan sumbangan Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara kaya Eropa) yang hanya 1,5 juta Euro atau sekitar Rp26 miliar.

Venezuela adalah contoh bagaimana nasib buruh diperhatikan, rakyat lebih sejahtera dan berdaulat atas hasil kerjanya sendiri, serta bermartabat. AS sebagai negara imprealis tidak senang dengan hal ini. AS bekerjasama dengan negeri-negeri penghasil minyak melepaskan minyak di pasar sehingga harganya turun. Hal ini berdampak pada Venezuela yang mengandalkan minyak sebagai sumber pendapatan. Lalu, AS menekan negara-negara lain agar tidak berdagang dengan Venezuela. Akibat sanksi ekonomi ini, Venezuela mengalami krisis pangan sehingga jutaan orang terpaksa mengungsi keluar Venezuela. Kelompok penentang pemerintah yang selama ini dibantu oleh AS menuduh program-program pemerintah gagal dan Nicolas Maduro harus digulingkan.

AS memberikan dukungan kepada kelompok oposisi untuk menggulingkan Maduro dan menggantikannya dengan Presiden boneka yang bernama Juan Guaido, Ketua Majelis Nasional Venezuela, yang bahkan tidak ikut pemilu presiden. Kelompok mereka menuduh Maduro adalah seorang diktator yang melakukan kecurangan-kecurangan dalam pemilihan presiden. Padahal, dalam proses pemilihan, lebih dari 200 pengamat internasional hadir, termasuk 14 komisi pemilihan umum dari 8 negara, dua ahli pemilihan umum dari organisasi-organisasi multilateral, 18 jurnalis internasional, satu orang parlemen Eropa dan satu Komisi Pusat Pemilihan Rusia. Sistem pemilihan menggunakan sistem elektronik yang sama seperti pemilihan legislatif yang mayoritas dimenangkan oleh kelompok oposisi Venezuela pada tahun 2015 lalu.

Terakhir, AS berusaha memenangkan opsi untuk mengirimkan pasukan bersenjata ke Venezuela dengan tuduhan di Venezuela sedang terjadi krisis kemanusiaan di bawah kediktatoran Maduro. Skenario yang terjadi di Irak, Suriah dan Yaman kini juga akan dilancarkan di Venezuela, termasuk juga dengan misi kemanusiaan dengan dalih sedang terjadi krisis kemanusiaan di Venezuela. Motivasinya jelas, AS ingin menguasai minyak yang ada di Venezuela.

Minyak di Venezuela telah disertifikasi pada tahun 2011 oleh OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak). Venezuela memiliki cadangan terbesar minyak mentah dengan 302,2 miliar barel yang diperkirakan bertahan selama 200 tahun! Tanah Venezuela juga menyimpan cadangan coltan/cobalt terbesar kedua di dunia, potensi tinggi berlian dan memiliki banyak cadangan besi, emas, mangan, bauksit dan nikel. Keberadaan sungai dan hutan hujan amazon membuat Venezuela menjadi salah satu paru-paru dunia dan menyimpan cadangan air bersih yang sangat besar.

Kalau Irak, Suriah, Yaman dan sekarang Venezuela bisa dihancurkan begitu saja oleh AS dan sekutu-sekutunya, maka Indonesia maupun negeri lainnya juga pasti akan diobok-obok kalau berani menerapkan kemandirian ekonomi dan politik. Invasi AS menyebarkan rasa takut ke seluruh dunia agar kita tidak berani melawan mereka. Peperangan demi peperangan melahirkan gelombang pengungsi yang mencari suaka ke negeri-negeri yang lebih sejahtera seperti Eropa dan AS. Lalu pemerintahan kapitalis di negeri-negeri itu dengan egoisnya membuat kebijakan anti pengungsi dan kelompok imigran, padahal merekalah penyebab peperangan tersebut.

Jangan sampai AS dan sekutunya berhasil merebut Venezuela karena artinya mereka akan menjadi lebih kuat dan melemahkan kita. Kita harus mendatangi Kedubes-Kedubes AS dan sekutu-sekutunya untuk memprotes intervensi mereka terhadap kedaulatan Venezuela. Penggalangan kekuatan melawan imprealis harus terus kita perkuat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat kelas pekerja sedunia!

Blog adalah kolom yang berisi posisi-posisi individu pengurus, anggota maupun eksternal untuk bertukar-pikiran. 

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.