Melatih Keberanian

Melatih Keberanian

Pagi menjelang, buruh-buruh bangun dari lelap tidurnya, mandi, memakai minyak wangi agar nanti bau keringat tersamar. Buruh berjalan perlahan menuju titik jemputan, menyalakan sepeda motor kreditan, memacu menuju tempat kerja. Yang pengangguran bermalas-ria dalam ketidakpastian akan masa depan yang masih menjadi milik Tuhan.

Ya…  begitulah rutinitas yang terus berputar dalam kehidupan di daerah yang menjadi jantung industri di negeri yang seharusnya agraris ini, tapi sayang, lebih menyukai betonisasi sebagai puncak dari kemajuan ekonomi dan industri. Buruh-buruh berlarian agar tidak terlambat menuju tempat yang mereka sebut ladang sawahnya. Ketakutan terhadap sesuatu yang bernama tuan kadang melebihi ketakutan terhadap Tuhan.

Adalah sebuah kenyataan kalau banyak pemuda dipersiapkan menjadi tenaga siap kerja di bidang industri di negeri ini, tetapi mereka hanya sekedar menjadi objek eksploitasi industri. Mereka dibelit ketidakpastian kerja, sekadar kerja kontrak. Ditambah lagi runyamnya sistem birokrasi yang ada dan tentu  kenyataan bahwa masa depan mereka seperti menjadi mainan mereka yang menjadi pemilik modal.

Adakah jalan untuk mengubah semua itu menjadi lebih baik? Masa depan, kepastian, dan ujungnya kesejahteraan? Undang-undang dibuat untuk dilaksanakan oleh semua pihak yang hidup di republik ini, sudahkah dia menjadi kekuatan yang ampuh untuk melindungi orang-orang tertindas, dipatuhi dan dijalankan semua oleh semua orang yang hidup di negeri ini ataukah hanya dijadikan sebagai pajangan. 

Banyak orang kebingungan tentang siapa dirinya ketika berada di dalam perusahaan, tidak tahu dan enggan mencari tahu. Kalaupun mereka tahu, mereka dikuasai rasa takut untuk menyatakan bahwa dia bisa melawan ketidakadilan yang terjadi padanya. Banyak terjadi pelanggaran undang-undang tapi yang dianggap paling aman memang diam. Tak perlu melawan agar tidak kehilangan pekerjaan. Begitu lahyang ada di benak pekerja kontrak. Tapi disadari atau tidak kontrak kerja akan habis pada masanya dan sudah pasti kehilangan pekerjaan.

Ketakutan untuk menyatakan bahwa terjadi pelanggaran terhadap sesuatu yang dinamakan kontrak kerja. Banyak buruh kontrak menyadari bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah sebuah pelanggaran terhadap undang-undang, tetapi kebingungan dan keraguan tentang sebab dan akibat ketika mereka melawan, menjadi hal yang menghantui ketika seorang buruh kontrak hendak melakukan perlawanan. Ini yang menjadi penghalang utama adalah keberanian untuk menyuarakan kebenaran.

Keberanian ini adalah hal yang bisa dikatakan jarang ada pada diri buruh kontrak. Bagaimana keberanian itu terjadi memang tidak mudah dan begitu saja muncul dalam kesadaran. Untuk berani menyuarakan penindasan yang terjadi pada dirinya sendiri adalah hal dasar yang harus dimiliki.

Kesadaran bahwa ada yang salah, harus diperbaiki dan diperingatkan, juga harus berani bertanggung jawab atas kesadaran itu. Untuk melakukan itu kita sebagai manusia harus terlebih dahulu melatih dirinya sensitif terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Bahwa keberanian untuk menyuarakan kebenaran bukan sebuah kesalahan. Keberanian tidak datang tiba-tiba, dia harus dilatih dan terus dilatih.

Blog adalah kolom yang berisi posisi-posisi individu pengurus, anggota maupun eksternal untuk bertukar-pikiran. 

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.