Rahasia di Balik Upah Layak

Rahasia di Balik Upah Layak

Upah layak adalah tuntutan dan semboyan perjuangan buruh yang kerap disuarakan. Di Indonesia kelayakan upah bersumber dari perhitungan atas kebutuhan hidup layak (KHL) yang berjumlah 60 komponen berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 13 tahun 2012.

Pengusaha selalu berusaha agar KHL dikurangi secara kuantitas dan kualitas. Pengusaha akan selalu berusaha menurunkan jumlah KHL. Begitu juga kualitasnya akan diambil secara rendah, misalnya beras, pengusaha akan memasukkan beras termurah.

Sementara buruh akan berusaha agar KHL menjadi lebih tinggi. Misalnya, ada kelompok buruh yang mengusulkan KHL berjumlah 86 komponen. Saat melakukan survei harga, buruh akan mencatat harga barang yang berkualitas bagus.

Pemerintah yang katanya berdiri di tengah-tengah, menetapkan PP No. 78 Tahun 2015 yang menetapkan KHL ditetapkan setiap lima  tahun sekali. Sementara, setiap tahunnya upah dinaikkan berdasarkan kenaikan angka  inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Nampaknya ketika memasuki pasar tenaga kerja, pemodal dan buruh memiliki kedudukan yang setara. Pemodal memiliki alat-alat produksi, sementara buruh memiliki tenaga untuk berproduksi. Lalu, terjadi transaksi di antara keduanya secara “setara” dengan syarat-syarat kerja yang “disepakati” bersama.

Padahal pemodal bisa menunda produksinya karena memiliki modal untuk hidup. Sedangkan buruh harus segera berproduksi untuk mendapatkan upah. Buruh tidak punya simpanan modal untuk bertahan hidup. Tanpa bekerja, buruh akan mati. Jadi, kesetaraan itu tidak pernah ada. Yang ada adalah pemodal memaksakan syarat-syarat kerja yang harus diterima oleh buruh. Apalagi jumlah orang yang tidak memiliki alat produksi jauh lebih banyak daripada yang bermilik.

Lama-kelamaan syarat kerja ala pemodal semakin memerosokkan kehidupan kaum buruh ke dalam jurang kemelaratan. Situasi yang sulit memaksa buruh meminta bagian yang lebih besar dari hasil kerja. Buruh melihat pemodal semakin kaya dan pabrik-pabriknya semakin banyak, sedangkan buruh dan keluarganya sengsara.

Terjadi perlawanan-perlawanan untuk memaksa pemodal memberikan upah yang lebih besar agar hidup buruh lebih layak lagi. Semakin tajam perlawanan itu, semakin revolusi di depan mata. Agar tidak menjadi semakin tajam, negara harus mendamaikan keduanya dengan memperbaiki kondisi hidup kaum buruh. Diterbitkan berbagai undang-undang perbaikan kondisi kerja.

Persoalan tidak selesai, pengusaha terus menekan upah buruh karena besarnya barisan cadangan tenaga kerja yang diciptakan oleh kapitalisme. Kemajuan teknologi telah mengurangi jumlah tenaga kerja dan menciptakan lebih banyak pengangguran. Kemajuan teknologi ini didorong oleh hasrat pemodal untuk memenangkan persaingan di pasar dan mengurangi jumlah buruh sebanyak mungkin sebagai hasil dari perjuangan buruh yang terus-menerus menuntut lebih banyak.

Teknologi ini telah menciptakan produksi barang yang semakin massal (berlimpah) sehingga harganya bisa ditekan semakin rendah. Pemodal yang bisa melakukan menjual paling murah (apalagi dengan kualitas baik) memenangkan kompetisi di pasar.

Persaingan berarti ada yang kalah dan ada yang menang. Celakalah buruh-buruh yang bekerja di pabrik kapitalis yang kalah. Buruh kehilangan pekerjaan sebagai hasil dari persaingan, pengangguran bertambah.

Terjadi  kontradiksi: jumlah barang semakin banyak karena dihasilkan oleh kemajuan teknologi, sedangkan pengangguran semakin bertambah dan upah semakin rendah, yang berarti daya beli masyarakat juga semakin menurun.

Salah satu ciri dari semakin lemahnya daya beli buruh adalah jumlah utang buruh semakin besar yang harus dibayar dengan menambah jumlah jam kerja (lembur). Utang-utang itu adalah utang konsumsi yang harus dibayar selama belasan hingga puluhan tahun. Kelihatannya saja buruh memiliki barang yang banyak seperti rumah, kendaraan, pakaian, barang elektronik, bahkan mobil. Tapi semua itu dibayar dengan utang dan jam kerja yang panjang.

Jumlah buruh berstatus permanen juga semakin sedikit. Sebagian besar adalah  buruh fleksibel  dengan status outsourcing, kontrak, harian dan magang. Buruh terpaksa menerima kerja dengan status apapun karena tidak memiliki daya tawar untuk menentukan. Pasar kerja semakin tidak setara.

Pemodal bisa berkilah bahwa mereka membayar upah buruh dari modalnya, tapi modal itu sendiri tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa tenaga kerja. Jadi, jelas sekali bahwa tenaga buruh itu harus ada dalam produksi. Tak peduli namanya siapa, kebangsaannya apa, agamanya apa, identitasnya apa, harus ada tenaga yang mengubah modal tersebut. Buruh tetap saja buruh dengan tenaganya dan pemodal membutuhkannya.

Meskipun dibutuhkan, buruh akan selalu dibayar sekadar sesuai dengan kebutuhan dasar hidupnya. Itulah mengapa negara menggunakan konsep KHL karena sesungguhnya KHL membuat buruh tetap hidup dan bisa kembali bekerja keesokan hari dan sebulan ke depannya sampai dia menerima gaji lagi pada bulan berikutnya.

Jadi, apakah sesungguhnya upah layak itu? Upah layak seharusnya bukan agar buruh sekadar bisa hidup, tapi upah layak itu adalah bagian yang selayaknya harus diterima buruh dari hasil kerjanya. Tentu pertama-tama buruh harus tahu berapa sebetulnya nilai (surplus) yang dihasilkannya dalam produksi. Informasi ini harus dibuka, agar pengusaha jangan seenaknya mengatakan: “rugi, rugi, rugi” padahal di sisi lain pabriknya semakin meluas.

Namun, tentu, buruh (kelas pekerja) hanya mungkin mendapatkan bagian atas hasil kerjanya sepenuhnya jika “Pemilikan atas sarana-sarana/alat-alat produksi–seperti tanah pabrik/kantor, mesin-mesin, bahan-bahan mentah, pabrik-pabrik, dan sebagainya, oleh rakyat pekerja sendiri”.

Ditulis berdasarkan pendidikan ekonomi politik FSEDAR, 1 Februari 2019.

Blog adalah kolom yang berisi posisi-posisi individu pengurus, anggota maupun eksternal untuk bertukar-pikiran. 

2 thoughts on “Rahasia di Balik Upah Layak

  1. Tumpas Riba (uang kertas)

    Emas, Perak & Tembaga sebagai nilai tukar sebenarnya

    AlhamdulILLAH kami makmur dari hasil bumi, kembali menjadi Petani & Nelayan

    Reply

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.