Benarkah Kenaikan Upah Mengakibatkan Pengangguran?

Benarkah Kenaikan Upah Mengakibatkan Pengangguran?

Karena serikat buruh tidak punya hak untuk memeriksa keuangan perusahaan, maka kita terpaksa menggunakan data konstan rata-rata upah, biaya produksi dan keuntungan kapitalis di ASEAN.

Data konstan:
– Biaya produksi = 30 % dari penjualan/pendapatan/sales/revenue
– Upah = 6 % dari penjualan/pendapatan/sales/revenue
– Biaya administrasi, pajak, preman, keamanan, pungli dan semacamnya = 30 % dari penjualan/pendapatan/sales/revenue
– Keuntungan kapitalis = 34 % dari penjualan/pendapatan/sales/revenue
– Nilai tambah = pendapatan – biaya produksi, maka 100 % – 30 % = 70 % adalah nilai tambah yang dihasilkan buruh bekerja selama 7 jam (420 menit).

Contoh Kasus
Diketahui:
Pendapatan PT AI tahun 2010 = Rp 129 triliun
Upah buruh dalam 1 tahun = 7,6 triliun
Jumlah buruh= 93.544

  1. Waktu Kerja yang Dirampas oleh Kapitalis
    Perhitungan:
    Nilai tambah (Rp) = 70 % x 129 triliun = Rp 90,3 triliun
    Nilai tambah per bulan yang dihasilkan buruh= Rp 90,3 triliun : 12 bulan = Rp 7,525 triliun, maka per hari Rp 7.525.000.000.000 : 30 = Rp 250,83 miliyar
    Nilai tambah per hari yang dihasilkan 1 orang buruh = Rp 247.300.000.000 : 93.544 = Rp 2.681.447

Persentase (%) upah buruh = (7,6/129) x 100 % = 5,89 %
Rata-rata upah satu orang buruh per bulan = (7.600.000.000.000 : 93.544) : 12 bulan = Rp 6.770.000,-/buruh
Upah buruh per hari = Rp 6.770.000,- : 30 hari = Rp 225.666

Jadi, satu orang buruh AI mampu menghasilkan nilai tambah sebesar Rp 2.681.447 per hari, tapi buruh hanya mendapatkan bagian Rp 225.666 per hari.

1 hari buruh kerja selama 7 jam atau 420 menit, jadi nilai tambah selama 420 menit = Rp 2.681.447 atau Rp 2.681.447 = 420 menit.

Rp 2.681.447 = 420 menit
Rp 225.666 = x (waktu kerja buruh yang dibayar kapitalis)

X = (225.666/2.681.447) x 420 menit : = 35,3 menit

Jadi, buruh AI kerja selama 7 jam, tapi hanya dibayar selama 35,3 menit.

Ke manakah 384,7 menit sisanya? Itulah waktu kerja buruh AI yang dirampas oleh kapitalis, karena kapitalis adalah pemilik alat-alat produksi dengan disahkan oleh negara.

Catatan: keuntungan kapitalis bisa meningkat menjadi 45 % dari pendapatan, jika produktivitas ditingkatkan, misalnya dengan cara menggunakan mesin baru, memperpanjang lembur, dan mengganti buruh dengan yang lebih segar.

  1. Jika Tidak Ada Waktu yang Dirampas oleh Kapitalis (Kapitalis Tidak Ada)
    Perhitungan:
    – Upah yang dihasilkan buruh selama 36 menit (dibulatkan)= Rp 225.600,-
    – jika buruh kerja selama 2 jam (120 menit) berarti buruh bisa menghasilkan:
    (120 : 36) x 225.600 = Rp 752.000
    – Upah sebulan: 30 hari x Rp 752.000,- = Rp 22.560.000,-
    – Masih ada sisa jam kerja yang ditinggalkan selama 5 jam yang bisa diisi oleh buruh lain.
    Jika kerja 2 jam menggunakan 93.544 buruh, maka kerja 5 jam harus menambah buruh sebanyak:
    (5/2) x 93.544 = 2,5 x 93.544 = 233.860 buruh (tenaga kerja yang seharusnya bisa terserap)
    Sehingga, jumlah buruh seluruhnya adalah: 233.860 + 93.544 = 327.404 dengan dua jam kerja saja.

Catatan: Jika upah minimum terlalu rendah, maka buruh akan lebih banyak mengambil lembur yang justru menambah jam kerjanya sehingga menghilangkan kesempatan bagi orang lain untuk mengambilnya. Jadi, tidak benar bahwa upah layak membuat pengangguran, malah sebaliknya, upah murah adalah salah satu penyebab pengangguran

  1. Sumbangan sosial
    Jika upah minimum = Rp 2.400.000,-/bulan untuk 36 menit, maka upah untuk 2 jam (120 menit) adalah:
    (120 : 36 menit) x Rp 2.400.000,- = Rp 8.000.000,- (sebagai patokan upah)
    Sumbangan sosial buruh AI: Rp 22.560.000,- — Rp. 8.000.000,- = Rp 14.560.000,-/orang
    Jadi, sumbangan sosial buruh AI keseluruhan: Rp 14.560.000,- x 327.404 = Rp 4.767.002.240.000 atau Rp 4,75 triliun per bulan

Catatan: Sumbangan sosial ini digunakan untuk membiayai program sosial seperti kesehatan, pendidikan, penemuan teknologi, subsidi untuk mereka yang tidak bisa beproduksi, seperti anak dan orang tua, yang harus diawasi oleh buruh secara langsung. Upah Rp 8 juta tadi menjadi tinggi nilainya karena sumbangan sosial ini bisa menggratiskan pendidikan, kesehatan, dapur umum, dan lain sebagainya.

  1. Penyerapan tenaga kerja
    Diketahui jumlah tenaga kerja formal di Indonesia sekitar 34 juta. Jika seharusnya buruh yang bisa diserap adalah sebanyak 2,5 kali lipatnya (lihat perhitungan di poin 2), maka 2,5 x 34 juta = 85 juta buruh, sehingga jumlah buruh formal bisa menjadi: 34 + 85 = 119 juta.

Jumlah buruh bisa terus diperbanyak dengan pembangunan industri baru, jam kerja yang semakin pendek dan penemuan teknologi baru, bahkan hingga manusia bisa dilayani oleh mesin-mesin dan akhirnya tidak melakukan pekerjaan fisik yang berarti serta semakin banyak waktu luang untuk eksposur menemukan hal-hal baru yang mempertinggi taraf kemanusiaan.

Contoh keuntungan : https://www.sembadapratama.com/content/meningkatkan-keuntungan-melalui-peningkatan-produktivitas

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.