Soal Jam Kerja Panjang atau Terlalu Banyak Lembur

kathe kollwitz lukisan
kathe kollwitz lukisan
Foto Ilustrasi. The March of the Weavers in Berlin’ by Käthe Kollwitz, 1897, engravingg

I. Ambil hikmah dari kasus !

Soal jam kerja panjang atau terlalu banyak lembur.

Kejadian diambil dari fakta, aku panggil dia A, A adalah buruh yang rajin dilihat dari absensinya yang luar biasa belum pernah absen sakit selama bekerja dan sedikit sekali cuti, itupun cuti khusus saat menikah. Seperti umumnya pemuda perantauan dalam mensiasati hidup, rajin bekerja dan senang lembur karena dapat buat bertahan lebih lama dan bisa bantu orang tua juga untuk keperluan menikah.

Setelah menikah tetap rajin bekerja dan rajin lembur guna persiapan kelahiran buah hati. Malapetaka datang, ketika sang buah hati mau lahir sang istri kesulitan melahirkan. Telepon istri diterima dipabrik saat bekerja karena istri ketubannya sudah pecah. Saat itu juga si A langsung pulang untuk bawa istri ke rumah sakit. Dokter bilang harus melahirkan saat itu juga, bayi lahir selamat dan istripun selamat.

Namun setelah beberapa jam ada masalah dengan si bayi. Si bayi harus dipindahkan ke rumah sakit dengan fasilitas yang sesuai dengan si bayi. Biaya melahirkan kurang lebih 4 juta access claimnya.Waktu itu belum ada BPJS hanya asuransi swasta.

Setelah dirawat beberapa hari sang buah hati pulang ke rahmatullah. Kami semua bersedih, selang beberapa hari kesedihan bertambah ternyata access claim bertambah dahsyat lebih dari 82 juta. Hal yang sangat sulit buat si A.
Setiap pulang lembur ia tunggu pengurus serikat di sekre untuk mencari solusi. Kadang ia sampai tertidur di sekre. Ia sering juga bawa makanan untuk dimakan pengurus.

Setelah melalui perjuangan pengurus dan keteguhan pengurus, ia bebas sama sekali. Bahkan tidak perlu membayar sedikitpun.

Jam kerja panjang tidak membuat segalanya lebih baik, jam kerja panjang dapat membuat seseorang meninggalkan kawannya, organisasinya, bahkan keluarganya.

Di konsolidasi-konsolidasi aku jarang melihat si A, tapi yang kutahu ia sudah berbahagia dengan buah hati pengganti dan keluarganya. Dan dia masih rajin bekerja dan lembur. Jika bertemu salamku untuknya, masih sehat ?

II. Jam kerja panjang dan lembur yang menguras kemanusiaan.

Aku panggil dia B. Orangnya baik, suka membantu dan suka menolong. Terutama yang mau pinjam uang. Ia pemuda yang rajin, bahkan setiap saat rela dipanggil untuk memperbaiki mesin ataupun menyelesaikan trouble shooting di pabrik pada saat ia sudah pulang atau malam hari. Ia juga rajin lembur. Aku tahu ia sangat sayang kepada ibunya. Ia selalu kirimkan uang ke kampung untuk keluarganya.

Selain itu ia juga dapat pengakuan dari para atasannya bahkan dari ekspatriat (orang Jepang), Si B orang yang rajin dan merupakan asset penting perusahaan.

Si B kerja nonshift, ia seorang leader yang memiliki tanggung jawab. Si B bahkan sering menginap di pabrik demi dikejar pemenuhan kebutuhan produksi.

Suatu ketika ia pulang pagi karena habis kerja dari pagi sampai pagi lagi. Tetapi karena siangnya di telpon untuk balik ke pabrik karena trouble belum selesai ia balik ke pabrik lagi (demi tanggung jawab dan loyalitas). Siang itu Si B badannya sudah merasa panas dingin. Waktu istirahat ia putuskan untuk beli kelapa muda dengan diantar kawannya. Namun sorenya badannya makin drop sehingga ia harus diantar pulang kawannya.

Sesampai dirumah Si B minum obat warung untuk mengatasi masalah sakitnya. Esoknya ia kembali bekerja karena ia khawatir akan terjadi keterlambatan pengiriman. Namun malang badannya semakin drop sehingga Si B menyerah.

Sore itu ia langsung dibawa kawan ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter bilang badannya lemah harus dirawat dan periksa darah. Hasil pemeriksaan darah Si B positif demam berdarah.

Si B masuk ruangan rawat inap, dan seminggu kemudian kondisinya makin memburuk yang mengharuskan Si B masuk ke ruangan ICU. Ia menggunakan asuransi swasta dan iapun juga dimintai pihak rumah sakit uang jaminan sebesar 9 juta. Karena saat dirawat di ruang kelas 2 selama seminggu melebihi batas limit asuransi.

Saat aku menengoknya aku tanyakan kenapa tidak pakai BPJS ? Si B bilang sudah minta terus ke admin perusahaan kartunya belum jadi terus. Aku bilang ini kelalaian perusahaan. Aku minta kakaknya Si B yang kebetulan kerja di perusahaan yang sama untuk mengecek kelengkapan administrasinya. Dan aku juga meminta beberapa pengurus untuk menyelidikinya.

Perkembangan Si B di ruang ICU semakin memburuk sehingga ia dalam kondisi kritis, koma. Beberapa hari kemudian ia dipindahkan ke ruang isolasi. Di ruang isolasi Si B tidak sendiri ada pasien lain disisi kiri dan kanannya. Disamping kanannya pasien anak SMA kelas 2 yang pada akhirnya tidak tertolong.

Ibunya Si Bpun datang dari kampung karena khawatir dengan kondisi putranya. Catatannya pihak perusahaan tidak ada yang menengoknya.

Alhamdulillah kondisi Si B semakin membaik setelah dirawat selama 2 minggu, namun masalah lain datang. Ketika Si B meminta pulang ia terganjal administrasi karena access claim sebesar 28 juta lebih. Pagi itu jam 5 pagi infusnya sudah habis, dan Si B meminta jarum infusnya dilepas. Namun pihak rumah sakit menolaknya karena masalah administrasinya belum selesai.

Keluarga Si Bpun menghubungi pengurus serikat untuk menyelesaikan persoalan administrasi. Penguruspun jalan dan meminta pertanggungjawaban perusahaan. Sadisnya pihak perusahaan cenderung menghindar, menolak dan berbelit-belit. Bahkan diajak untuk datang ke rumah sakitnyapun tidak ada yang mau.

Atasan-atasannyapun menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa. Ekspatriatpun diam. Penguruspun membabi-buta ke pihak hrd untuk diajak tanggung-jawab, bahkan ditarik manajernya untuk keluar dari meeting managemen. Hari yang sangat menguras tenaga dan pikiran.

Akhirnya kami memutuskan dari pengurus 2 orang harus stay ke rumah sakit untuk menekan pihak asuransi dan RS. 2 orang lagi menahan hrd untuk tidak pulang sebelumSi B bisa keluar dari RS.

Negosiasi-negosiasi berjalan hingga malam hari. Akhirnya tepat jam 21. 30 proses administrasi selesai dan infuspun bisa dicabut. Tangisan ibu Si B tidak bisa menahan haru mengucapkan rasa terima-kasih hingga memeluk kaki kawan pengurus. Penguruspun menenangkannya.

Uang 9 juta sebagai jaminanpun dikembalikan. Si B bisa pulang.

Tekanan untuk membayar access claim pun dilancarkan managemen ke keluarga. Namun hingga kini Si B sudah terbebas dari pengeluaran apapun atas hal tersebut.

Sejak saat itu Si B merasa diperdaya oleh perusahaan, sakit hati. Sampai sekarang akhirnya ia aktif jadi korlap serikat dan lebih mementingkan kepentingan organisasi.

Pepatah mengatakan matipun kau akan diganti secepatnya, tanpa bekas !

Salamku untuknya dalam kasih sayang kemanusiaan.

Sebarkan...

3 Replies to “Soal Jam Kerja Panjang atau Terlalu Banyak Lembur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *