F-SEDAR Belajar, berpolitik, sejahtera!
14 Maret 2019 / 0 Comments / Kabar

Gelar Pemungutan Suara, 80,5% Anggota FSEDAR Pilih Golput

Suasana perhitungan suara.

Melalui referendum yang diselenggarakan secara demokratis pada tanggal 10 Maret 2019, Pengurus Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (FSEDAR) mengajukan golput menjadi posisi organisasi dalam Pemilu 2019. Posisi golput dinilai sebagai satu-satunya posisi politik yang tidak kontradiktif dengan program politik kita, yakni pembangunan partai politik alternatif.

Dalam referendum tersebut, 80,52% anggota FSEDAR menyetujui posisi politik golput, sedangkan sebanyak 19,48% menyatakan hak pilih harus tetap digunakan. Dengan demikian, serikat kita secara resmi dapat menjadikan golput sebagai posisi organisasi. Tentunya posisi golput bukanlah suatu bentuk kepasrahan, tetapi sebagai bagian dari upaya pembangunan kekuatan politik alternatif.

FSEDAR menjadi salah satu serikat buruh yang menginisiasi Konferensi Gerakan Rakyat (KGR) pada April 2018. KGR menyatakan sikap untuk membangun alat politik alternatif baik berupa blok politik atau partai politik. Posisi politik inilah yang terus dipegang oleh FSEDAR sampai hari ini.

Golput adalah satu-satunya posisi politik yang berkesesuaian dengan program pembangunan alat politik alternatif mengingat kedua capres-cawapres yang sama-sama merupakan gabungan kelompok elite dan militeris. Mengapa Golput? Bisa dibaca di sini: https://fsedar.org/blog/mengapa-golput/

Bagaimanapun juga untuk menjadikan golput sebagai posisi organisasional, sebuah serikat yang demokratis memerlukan suatu mekanisme demokrasi yang bersifat langsung. Kita sudah terbiasa melakukan pemungutan-pemungutan suara untuk menentukan apakah kita akan melakukan pemogokan atau tidak.

Dalam pemungutan suara golput kali ini, kelemahan kita adalah tingkat partisipasi anggota yang masih rendah. Namun anggota yang memilih bisa dipastikan adalah anggota yang paling aktif dalam berorganisasi mengingat pemungutan suara ini digelar dalam aksi pada hari Minggu. Tidak ada alasan bagi anggota untuk tidak terlibat karena hari Minggu adalah hari libur kerja. Kita percaya aksi adalah sikap paling maju yang dimiliki oleh anggota serikat. Mengikuti aksi membutuhkan pengorbanan dan militansi.

Ke depannya kita harus menyempurnakan mekanisme pembuatan keputusan secara demokratis, terutama yang menyangkut posisi-posisi organisasi yang strategis. Kita harus terus menjaga demokrasi dan partisipasi sebagai salah satu kunci kemajuan organisasi kita, perjuangan dan gerakannya.

Memang serikat kita masih kecil, hanya beranggotakan sekitar 1.000 orang, tapi justru saat masih kecil inilah kita harus meletakkan dasar-dasar dan tradisi-tradisi maju agar organisasi kita membesar dengan benar.


Share:
Tagged:

Tetap Berjuang dengan Aksi Jaga Jarak

Pandemi korona memberikan alasan bagi pemerintah untuk melakukan pembatasan kebebasan berekspresi, termasuk pelarangan unjuk rasa dan mogok. Di saat yang sama, DPR tetap melanjutkan pembahasan…

Read More

Perkembangan Situasi Krisis Virus Korona

Sejak dua kasus positif korona pertama diumumkan oleh pemerintah pada tanggal 3 Maret 2020, saat ini (19 April 2020) kasus korona positif mencapai 6.248 kasus…

Read More

FSEDAR Menolak Omnibus Law dan PHK terhadap Buruh AICE

Masa pandemi Covid-19 tidak menghentikan buruh untuk melakukan aksi dan mempersiapkan diri untuk kembali menuntut hak-hak buruh AICE dan menolak Omnibus Law. Pada 14 Juni…

Read More
About the author

Sarinah: Juru Bicara Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan. Mengerjakan urusan-urusan mengelola website, komunikasi organisasi dan tulis-menulis.

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *