Berorasi dan Berpuisi untuk Hari Perempuan Internasional

Berorasi dan Berpuisi untuk Hari Perempuan Internasional

Hari Perempuan Internasional (HPI) yang jatuh setiap 8 Maret semakin dekat. FSEDAR juga rutin melakukan aksi setiap tahun untuk memperingatinya. Hari ini kami membicarakan latar belakang lahirnya HPI, latihan berorasi dan membaca puisi dengan dipandu oleh Koordinator Bidang Perempuan FSEDAR, Sri Darwanti.

Dijadikannya 8 Maret sebagai Hari Perempuan dilatarbelakangi oleh aksi buruh garmen perempuan pada 8 Maret 1857. Kebenaran peristiwa ini banyak diragukan dan dianggap mitos, namun sudah terlanjur diyakini oleh banyak orang.

8 Maret diusulkan menjadi Hari Perempuan oleh Konferensi Internasional Perempuan Sosialis yang dihelat pada Agustus 1910. Mulai dirayakan di Rusia pada 1913, di Jerman dan Inggris pada 1914, lalu menyebar ke seluruh dunia.

Aksi Hari Perempuan tahun 1917 menjadi pemicu meletusnya Revolusi Rusia hingga dijadikan sebagai hari libur nasional Uni Sovyet hingga 1965. Kaum perempuan bergerak menuntut roti, tanah dan perdamaian. Tuntutan ini mewakili kondisi kelas pekerja Rusia yang kelaparan, petani yang tak bertanah dan peperangan yang mengorbankan kelas pekerja Rusia dan anak-anaknya.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menjadikan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional pada 1975 yang membuat 8 Maret tidak saja dirayakan oleh perempuan-perempuan beraliran sosialis, tapi juga seluruh perempuan di dunia yang berjuang untuk memenangkan kesetaraannya.

Kondisi yang menimpa perempuan kurang lebih 100 tahun lalu masih dirasakan hingga kini. Meskipun banyak tuntutan perempuan yang sudah dipenuhi seperti hak pilih perempuan, kesempatan bekerja dan upah yang setara, namun diskriminasi masih terjadi di sana-sini.

Dalam orasi seorang buruh perempuan, dia menceritakan bagaimana untuk mendapatkan cuti haid, perempuan wajib memberikan surat keterangan dokter (SKD). Padahal yang namanya perempuan pasti mengalami haid

“Padahal yang namanya haid itu sakit yang hanya dirasakan oleh perempuan.”

Beban kerja perempuan juga seringkali lebih berat daripada laki-laki, tenaganya dikuras. Dia mencontohkan buruh perempuan yang diberi tunjangan Rp15 ribu untuk mengangkut plastik seberat 15 kilo sebanyak 12 kali setiap harinya.

Sementara ada supervisor (pengawas) yang kerjanya hilir-mudik mengawasi dan tidak mau membantu saat buruh perempuan itu kelihatan kesulitan mengangkat barang yang berat.

Di sisi lain, perempuan tidak diberikan makanan yang layak saat diharuskan kerja sif malam.

“Seharusnya sif malam perempuan harus mendapatkan makanan bergizi, yang ada malah dapat susu expired (kadaluarsa).”

Itulah mengapa buruh perempuan harus bangkit dan melawan untuk menuntut hak-haknya kepada perusahaan.

Acara ini ditutup dengan pembacaan puisi Seumpama Bunga karya Widji Thukul.

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Share this post

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.