Kronologi Kasus Kecelakaan Kerja Tika Nafita Sari di PT. Nanbu Plastics Indonesia

kasus kecelakaan kerja

Selasa, 13 Februari 2018, Serikat Buruh Bumi Manusia (SEBUMI) PT. Nanbu Plastics Indonesia melaporkan dugaan kasus kecelakaan kerja dan PKWT yang menimpa saudari Nafitasarii (Tika Nafita Sari) dan kasus permasalahan PKWT 9 pekerja lainnya pada Balai Pengawasan Wilayah II, di Karawang, Jawa Barat. Diterima oleh Bapak Danilo Diaz. Terjadi audiensi selama sekitar 30 menit. Salah satu hal yang saya tangkap dari Bapak Danilo, adalah bahwa PKWT diperuntukan untuk pekerjaan musiman. Kalau pabrik spare part itu sifatnya terus-menerus. Semoga pernyataan yang sama juga akan keluar dalam nota pemeriksaan.

Nasib saudari Tika, seorang buruh perempuan usia 23 tahun, foto-fotonya bisa dilihat di sini:

https://www.facebook.com/nafitasarii.nafitasarii/posts/477971549270845?pnref=story

Inilah kronologi kecelakaan kerja yang menimpa saudari Atika Nafita Sari yang sudah disampaikan ke Balai Pengawasan:

Sehubungan dengan kerugian yang saya alami akibat kecelakaan kerja di PT. Nanbu Plastics Indonesia yang mengakibatkan organ tubuh saya (jari tengah) di tangan kanan saya yang mengakibatkan cacat permanen, maka dengan ini saya menyampaikan kronologi sebagai berikut:

1. Bahwa saya mulai bekerja di PT. Nanbu Plastics Indonesi pada tanggal 20 Januari 2016, dengan status pekerja kontrak ( PKWT) untuk jangka waktu 1 (satu) tahun ditempatkan pada bagian Assy Yazaki sebagai Assy Collar .

2. Bahwa PT. Nanbu Plastics Indonesia adalah perusahaan swasta asing milik pengusaha Jepang yang bergerak di bidang plastik untuk kebutuhan otomotif.

3. Bahwa pada bulan April 2016 saya dimutasi (dipindah bagian kerja) ke bagian Extrusi dengan jenis pekerjaan sebagai inspeksi (mengecek) produk. Saya pun diberi pekerjaan tambahan selain inspeksi saya disuruh mengoperasikan mesin press untuk produk Ts-Tech dengan tipe model Trim Cord 04 L 65. Sebelum menjalankan mesin press saya diberikan petunjuk teori secara singkat dan saat itu juga belum ada WI (walk inspection) yakni petunjuk penggunaan yang ditempelkan pada mesin press yang saya gunakan.

4. Bahwa pada tanggal 26 September 2016 saat saya bekerja shift 1 pada jam 18:00 WIB (saat kerja lembur) saya mengalami KECELAKAAN KERJA, jari tengah saya setengah ruas terpotong mesin press yang sedang saya gunakan. Di tempat kejadian tidak ada siapa-siapa hanya ada saya dan teman kerja saya bernama Andri yang posisinya sedang juga sedang menjalankan mesin press dengan posisi berada di depan mesin press saya. Andri pun langsung berteriak memanggil Bpk. Jakaria (Leader Produksi). Karena pada saat itu petugas klinik sudah pulang (klinik beroperasi sampai jam 17.00 WIB) akhirnya saya dibantu dibawa ke mobil milik perusahaan, saya dibantu dengan Bpk Jakaria, Bpk. Nanang supriadi (PIC Produksi) dan satu orang pekerja lainnya. Dan saya pun langsung dibawa ke klinik Fajar Medika yang bertempatan di Kawasan MM2100. Saat di klinik jari tengah saya diberikan penanganan dengan dioleskan betadine dan diperban. Dokter klinik Fajar Medika mengharuskan saya dibawa segera ke rumah sakit. Kemudian saya dibawa kerumah sakit Hermina Grand Wisata yang beralamat di Jln. Festival Boulevard Blok JA No. 1, Lembangsari, Tambun Selatan, Bekasi , Jawa Barat 17510.

5. Bahwa saya tiba di rumah sakit Hermina Grand Wisata jam 19:00 saya mendapat penanganan :
a. Masuk Ruang UGD
b. Diberikan Infus
c. Dibuka perbannya
d. Dibersihkan lukanya dan diganti perbannya
Suster di rumah sakit juga menyimpan sisa potongan jari tengah saya yang ditaruh di dalam freezer (mesin pendingin). Saat saya menanyakan kenapa disimpan di dalam freezer, suster tersebut menjawab agar jaringan-jaringan sel tidak mati dan diusahakan akan disambung. Kemudian, dokter di rumah sakit Hermina Grand Wisata bertanya kepada saya mengenai orang tua atau keluarga sebagai penaggung jawab. Karena orang tua saya tidak ada di tempat, maka Bpk Diki Dzulkarnaen (Asisten Manager di PT. Nanbu Plastics Indonesia) mewakili sebagai penanggung jawab. Pihak rumah sakit meminta saya menunjukan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan agar langsung cepat di proses untuk operasi saat itu juga tetapi saya tidak memilikinya. Padahal saat itu saya bekerja sudah 9 bulan dan dalam slip gaji tercantum pemotongan iuran BPJS Ketenagakerjaan sejak awal saya bekerja di PT. Nanbu Plastics Indonesia. Kemudian Bpk. Diki Dzulkarnaen menelpon pihak HRD (Ibu Dewi Susilawati dan Bpk. Hasan Hasbullah) untuk menanyakan kartu BPJS Ketenagakerjaan namun pihak HRD tidak mengetahuinya dengan alasan telah pulang kerja dan data nomor BPJS Ketenagakerjaan saya ada di kantor perusahaan. Karena nomor BPJS Ketenagakerjaan saya belum diketahui penanganan terhadap jari tengah saya yang sudah putus setengah ruas tertunda, lalu jam 00:00 WIB saya baru mendapatkan kamar rawat inap di rumah sakit Hermina Grand Wisata.

6. Bahwa keesokan harinya pada tanggal 27 September 2016 pada jam 13:00 saya dimasukan ke ruang operasi dan jari tengah saya baru mendapatkan penanganan operasi. Saat operasi saya dibius total sekitar jam 16:00 saya baru sadar. Kemudian saya dipindahkan ruang rawat inap di rumah sakit Hermina Grand Wisata.

7. Bahwa pada tanggal 28 September 2016 pagi harinya, perawat rumah sakit mengatakan bahwa jari saya tidak bisa disambung lagi. Saya awalnya mengira jari saya sudah disambung kembali karena saya tidak bisa melihat jari saya yang ditutupi perban. Mendengar perkataan perawat, saya pun terkejut (shock) hingga menangis, meratapi nasib saya yang kini menjadi orang cacat.

8. Bahwa pada bulan Oktober 2016 pada saat saya melakukan kontrol ke rumah sakit Hermina Grand Wisata saya menanyakan kenapa jari tengah saya tidak bisa disambung. Jawaban dari dokter hanya “Mana bisa disambung”. Selain itu, dokter juga menyampaikan jari tengah saya tidak akan tumbuh kuku lagi.

9. Bahwa kemudian ternyata jari tengah saya yang putus tumbuh kuku lagi sementara luka saya yang belum kering, sehingga jari tengah saya masih bengkak dan sering keluar nanah.

10. Bahwa pada bulan Desember 2017 saya kembali mengecek masalah jari tengah saya yang semakin hari semakin bengkak dan mengeluarkan nanah di klinik Rizki di Jln. Gg. Simbang Kaliabang Tengah Bekasi Utara. Dokter di klinik tersebut menyampaikan agar dilakukan tindakan amputasi dikarenakan pertumbuhan kuku saya yang tidak normal dan akan membusuk apabila tidak diamputasi.

11. Bahwa saat itu hingga saat ini saya sedang mempermasalahkan PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) dan kasus KECELAKAAN KERJA saya antara saya dengan PT. Nanbu Plastics Indonesia yang menyimpang dari Undang-Undang Ketenagakerjaan. Dengan didampingi Serikat Buruh Bumi Manusia PT. Nanbu Plastics Indonesia (SEBUMI PT. NPI), saya memperselisihkan masalah ini yang dimulai dari perundingan pertama pada 10 Januari 2018.

12. Bahwa pada tanggal 16 Januari 2018 saya menanyakan perihal penanganan jari tengah saya yang akan diamputasi ke pihak perusahaan PT. Nanbu Plastics Indonesia. HRD, Seraphine Anne menyuruh saya ke rumah sakit dan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan.

13. Bahwa pada tanggal 19 Januari 2018 PT. Nanbu Plastics Indonesia mengakhiri hubungan kerja saya dengan alasan telah habis jangka waktu PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) tanpa mempertimbangkan kondisi saya yang kini sudah cacat dan akan kesulitan mencari pekerjaan di tempat lain.

Demikian kronologi kecelakaan kerja saya yang saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun juga. Terima kasih.

Bekasi, Januari 2018
Atika Nafita Sari

Sebarkan...

One thought on “Kronologi Kasus Kecelakaan Kerja Tika Nafita Sari di PT. Nanbu Plastics Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.