F-SEDAR Belajar, berpolitik, sejahtera!
23 Januari 2021 / 0 Comments / Pendidikan

Kerugian Menjadi Anggota Serikat Pekerja?

Beberapa hari  yang lalu, ada yang bertanya kepada saya, apakah kerugian menjadi anggota serikat pekerja? Apakah benar bahwa serikat pekerja itu adalah lembaga yang eksploitatif yang hanya menghisap pekerja saja? Misalnya hanya menghisap pekerja untuk mendapatkan uang iuran ataukah serikat pekerja itu justru yang membuat hubungan industrial di perusahan menjadi tidak harmonis?

Nah, pertanyaan sperti ini kerap muncul bukan saja dari teman saya, tapi juga, ini tuduhan-tuduhan yang sering dilancarkan oleh orang-orang atau kelompok yang anti serikat pekerja di media, termasuk di media sosial.

Serikat pekerja itu sebetulnya adalah satu organisasi yang didirikan oleh buruh berdasarkan kebutuhan buruh itu sendiri. Serikat pekerja adalah organisasi buruh yang didirikan sebagai hasil dari satu perjalanan sejarah, bahwa buruh itu membutuhkan satu alat persatuan karena jika buruh itu sendiri-sendiri akan berhadapan dengan kapital atau modal pastinya ia lemah karena buruh itu tidak memiliki alat-alat produksi. Buruh bekerja untuk pemilik alat-alat produksi dan mendapatkan upah dari pekerjaan itu.

Di sisi lain, karena besarnya barisan  cadangan tenaga kerja yang kita kenal sebagai pengangguran itu membuat posisi tawar buruh itu cenderung lebih rendah. Nah, kalau buruh itu bersifat sendiri-sendiri ,maka pemilik modal ini akan memiliki kemampuan mutlak untuk merendahkan harga tenaga kerja buruh.

Oleh karena itu, sejarahnya, terutama pada masa revolusi industri di Inggris, serikat pekerja justru muncul dari kebutuhan pekerja itu sendiri. Jadi, itu bukan satu alat atau itu bukan satu fenomena yang muncul dari luar seolah-olah dibawa oleh orang luar, tapi itu memang muncul dari dalam diri dan dari dalam gerakan pekerja itu sendiri untuk membangun satu alat persatuan.

Jadi, di sini sebenarnya jelas, memang serikat-serikat pekerja itu adalah satu kebutuhan pekerja, kemudian dalam perkembangannya serikat pekerja ini kan mengambil bentuk-bentuk yang bermacam-macam. Ada serikat pekerja yang memang konsisten pada tujuan, yang untuk kepentingan buruh. Tapi, dalam perjalanannya, bisa saja juga serikat pekerja, dikooptasi atau disubordinasi (ditundukkan) oleh kepentingan pemodal. Akibatnya, serikat pekerja itu eksis, tapi secara de facto, apa yang mereka lakukan adalah tidak memperjuangkan kepentingan buruh, atau bahkan, mendukung pengusaha.

Biasanya dalam kasus ini, yang ditundukkan adalah pengurus-pengurusnya yang mendapatkan fasilitas-fasilitas tertentu baik dari pengusaha maupun sekadar memanfaatkan fasilitas serikat itu sendiri. Pengurus-pengurus serikat buruh tidak sedikit yang bermain di dua kaki.

Serikat pekerja memiliki suatu tradisi yang bernama iuran. Dalam perkembangannya, pembayaran  iuran ini menjadi lebih mudah apabila bekerja sama dengan bagian keuangan perusahaan untuk memotong langsung upah pekerja untuk iuran dan langsung disetorkan ke rekening serikat buruh. Dengan demikian, besaran iuran serikat menjadi semakin terpastikan.

Akses pengurus terhadap iuran ini kerap disalahgunakan. Karena hubungan pengurus dengan pengusaha yang “mesra”, pengurus-pengurus juga meminjam otoritas pengusaha itu baik langsung maupun tak langsung. Terkadang pengurus serikat buruh adalah juga atasan dari anggota-anggotanya. Batasan otoritas perusahaan dan serikat menjadi kabur.

Situasi ini kerap diperparah dengan penyalahgunaan iuran yang diutang, digelapkan dan/atau digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu. Lama-kelamaan, serikat pekerja model begini menjadi sekadar “parasit” bagi pekerja dan merugikan kelas pekerja.

Tapi, bukan berarti secara konsep serikat pekerja itu merugikan. Serikat pekerja pada hakikatnya harus dibangun untuk kepentingan pekerja. Bagaimana kita menilai apakah suatu serikat pekerja itu menguntungkan bagi pekerja atau tidak?

Pertama, apakah serikat pekerja konsisten dengan tujuannya? Tujuan serikat pekerja itu kan untuk membela kepentingan buruh dan keluarganya. Tujuan ini diturunkan dalam program dan tindakan-tindakan serikat.

Kedua, kita melihat pada program, apa saja programnya? Misalnya, apakah serikat pekerja itu memiliki program advokasi? Apabila serikat pekerja itu memiliki program advokasi, apa saja yang di advokasi? Bagaimana proses dan hasil advokasinya? Lihat juga dalam program-program lain, seperti kampanye. Kita juga bisa melihat apakah suara-suara yang dikumandangkan oleh serikat buruh ini adalah suara-suara yang mewakili kepentingan buruh? Atau justru adalah narasi yang mendukung kepentingan kapital dan penguasa belaka?

Ketiga, program ini diturunkan dalam kegiatan-kegiatan. Apa saja kegiatan-kegiatannya? Buruh memiliki iuran, namun tidak ada kegiatan, tentu hal ini menjadi janggal. Kegiatan itu mencakup kegiatan advokasi, kampanye edukasi, pemberdayaan ekonomi, bisa apa saja untuk mengembangkan kepentingan buruh, termasuk kegiatan berpolitik. Sekali lagi, konsisten pada tujuannya.

Di antara sekian banyak kegiatan serikat buruh yang mungkin dilakukan, saya meyakinin bahwa edukasi atau pendidikan adalah salah satu yang terpenting. Konsepnya begini: buruh menghabiskan waktu 8 jam, bahkan hingga 12 jam untuk bekerja di pabrik, di perusahaan. Waktunya dihabiskan dalam pekerjaan, sehingga semakin sedikit pula waktu mengembangkan pemikiran.

Buruh dianggap sebagai pekerja fisik yang tak bisa berpikir sendiri untuk kepentingannya. Padahal, sebagai manusia, kesadaran adalah hal yang penting. Di sinilah pentingnya serikat berfungsi sebagai jembatan agar buruh mengembangkan potensi mentalnya.  Maka, serikat mendesain model edukasi yang dibutuhkan dan dengan metode yang tepat.

Serikat-serikat pekerja menyediakan program-program belajar, seperti diskusi, kelas-kelas, pendidikan, pelatihan, bacaan, yang kesemuanya untuk menambah pengetahuan anggota. Kerja-kerja di serikat menjadi sarana praktik untuk menyediakan pembelajaran praksis. Pendidikan kaum buruh tidak sekadar menjadi teori, tetapi berkembang lebih jauh karena adanya praktik langsung. Konsep buruh terpelajar menjadi bukan omong kosong lagi.

Keempat, hal ini berhubungan erat dengan strukturisasi yang dilakukan oleh serikat. Biasanya serikat pekerja akan mengembangkan struktur kepemimpinan yang membuat keputusan-keputusan dan struktur administrasi yang menjalankan kerja-kerja administrasi dari keputusan-keputusan tersebut. Yang terjadi kemudian adalah pesatnya perkembangan pengurus pemimpin dan birokrasi di dalam serikat buruh yang melumpuhkan efektivitas serikat sebagai organisasi massa.

Perlu diingat, serikat buruh adalah organisasi massa yang seharusnya melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis yang menentukan arah organisasi ke depan. Sarana-sarana pengambilan keputusan secara demokratis seperti rapat akbar dan referendum-referendum mesti dikembangkan.

Bayangkan jika massa buruh banyak diisi oleh buruh-buruh terpelajar sebagai hasil belajar teori dan berpraktik maju di serikat, tentu kualitas keputusannya akan sangat baik. Bahkan serikat model seperti ini akan sangat siap untuk membangun suatu alat politik yang dibutuhkan dalam rangka mengubah masyarakat menjadi lebih adil dan manusiawi.

Serikat ini juga akan diisi oleh orang-orang yang memiliki kapasitas menjalankan keputusan itu dalam kerja-kerja reguler dan biasanya teknikal. Kerja-kerja bersama ini adalah kunci berjalannya serikat buruh secara efektif.

Sayangnya, masih banyak buruh berpikir secara transaksional dengan membayar iuran satu persen, maka gugurlah hak dan kewajibannya terhadap serikat. Padahal pemikiran transaksional seperti ini berkontribusi meruntuhkan efektivitas serikat pekerja. Kita merasa membayar iuran 10 tahun sebesar Rp5 sampai 6 juta, misalnya, maka kita bisa mendapatkan layanan advokasi tanpa ikut berpartisipasi sama sekali. Serikat buruh diubah menjadi “lembaga pelayanan hukum” yang salah kaprah. Karena jika mau disamakan dengan kantor pengacara, coba saja membawa uang Rp5-6 juta ke kantor pengacara untuk membereskan satu kasus, tentu tidak semudah itu.

Selain itu, sebetulnya, partisipasi dalam membuat keputusan dan bersama mengerjakannya adalah kunci kemajuan serikat karena kita juga dapat mengetahui secara bersama-sama keberhasilan dan kegagalannya, serta cara memperbaikinya bersama-sama.

***

(Disusun oleh Sherr Rinn, 27 November 2020)


Share:
Tagged:

PHK Karena Pandemi

Belakangan marak pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan pandemi Covid-19 (virus corona). Pengusaha mengaku order mengalami penurunan akibat perlambatan ekonomi, sehingga terpaksa harus melakukan PHK…

Read More

Selamat Tinggal UMSK (Dampak Omnibus Law)

Sebuah surat dari Kementerian Ketenagakerjaan yang ditujukan kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat menjelaskan tidak ada lagi penetapan upah minimum sektoral.…

Read More

Perhitungan Upah Buruh Harian Lepas

Di dunia kerja, salah satu bentuk status kerja adalah pekerjaan harian dengan upah harian. Hal ini lazim dipraktikkan dalam pekerjaan konstruksi (bangunan). Pekerja/buruh konstruksi sesungguhnya…

Read More
About the author

F-SEDAR: Serikat buruh yang memperjuangkan kesejahteraan buruh, demokrasi dan hak asasi manusia dalam perjuangan ekonomis dan perjuangan politik. Belajar, bekerja, berpolitik, sejahtera!

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.