F-SEDAR Belajar, berpolitik, sejahtera!
28 Desember 2019 / 1 Comment / Posisi

Kesejahteraan dan Kondisi Kerja Layak untuk Buruh Es Krim AICE

Pada 20 Desember 2019, buruh PT. Alpen Food Industry memulai mogok kerja yang dilakukan selama tiga hari untuk menuntut kenaikan upah pokok yang selama ini hanya naik Rp. 5.000 per tahun. Pengusaha memberlakukan kebijakan upah UMK + Rp.10.000 pada tahun 2019 ini, sedangkan pada tahun 2014-2016, pengusaha pernah menggunakan UMK KBLI 1520 yang seandainya pada tahun ini masih digunakan, maka upah buruh dapat sebesar Rp.4.429.815.

Selain permasalahan upah, buruh juga mengalami kondisi kerja lain yang tidak menguntungkan, seperti mutasi sepihak yang kerap dilakukan pengusaha, sanksi-sanksi sepihak, kecepatan mesin kerja yang meningkat, buruh perempuan hamil masih dipekerjakan sif malam, penggunaan buruh kontrak dan terakhir sanksi terhadap buruh yang mengikuti pemogokan serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebagian besar persoalan ini telah diprotes sejak tahun 2018 oleh pihak serikat pekerja dalam berbagai perundingan, namun sampai saat ini tidak ada penyelesaian yang berarti.

Kenaikan upah diberlakukan secara sepihak setiap tahunnya, meskipun di dalam PP No. 78 Tahun 2018 tentang Pengupahan dan Permenaker No. 1 Tahun 2017, besaran upah pokok dibuat berdasarkan kesepakatan. Di perusahaan-perusahaan lain kita bisa melihat bagaimana besaran upah pokok memperhitungkan masa kerja, prestasi kerja dan berbagai komponen perhitungan lain, tetapi di perusahaan AICE, upah selisih yang diberikan hanyalah Rp.5.000 saja. Sedangkan di sisi lain, perusahaan ini telah berhasil memperluas pasarnya di berbagai daerah, menjadi sponsor berbagai ajang besar, beriklan di televisi sampai dengan membayar influencer di media sosial. Pihak serikat pekerja mengajukan tuntutan upah berdasarkan penjualan perusahaan yang diperkirakan mencapai Rp105 miliar per bulan.

Besaran upah pokok ini tidak sebanding dengan resiko kerja yang harus ditanggung oleh buruh bekerja di perusahaan yang masih menggunakan amoniak sebagai bahan baku pendingin. Juga ditambah lagi dengan kecepatan kerja yang sering ditingkatkan secara sepihak. Buruh hamil dan dalam masa menyusui juga tidak seharusnya dipekerjakan pada malam hari, karena selain berbahaya bagi kesehatan juga telah dilarang oleh Pasal 54 Perda Kabupaten Bekasi No. 4/2016 dengan ancaman sanksi pidana. Sampai dengan saat ini, data yang dihimpun oleh serikat pekerja terdapat 13 kasus keguguran dan lima kematian bayi saat dilahirkan dari 359 buruh perempuan di PT Alpen Food Industry.

Sebanyak 27 buruh  Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dirumahkan dan dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. Buruh telah memperselisihkan permasalahan ini dengan mengacu pada Pasal 59 UU Nomor 13 Tahun 2003 dan Kepmenakertrans No. 100/2004, karena buruh dipekerjakan di bagian produksi yang sama dengan pekerja berstatus PKWTT (tetap).

Ketika buruh memprotes, perusahaan selalu berlindung di balik perintah kerja, seolah-olah wajar apabila buruh diperintah dalam hubungan kerja yang tidak memberikan kesejahteraan yang layak. Kita sering sekali mendengarkan pandangan yang menyatakan apabila buruh tidak puas, maka buruh harus mundur dari pekerjaannya. Padahal perusahaan kemudian akan merekrut lagi buruh-buruh yang lain yang tak lain dan tak bukan adalah manusia juga yang seharusnya tidak boleh juga bekerja dalam kondisi kerja yang tidak manusiawi.

Kami dari Komite Solidaritas Perjuangan Buruh (KSPB) sebagai wadah yang memperjuangkan kesejahteraan buruh dan menolak segala bentuk diskriminasi, dengan ini menyatakan menolak segala bentuk perlakuan yang tidak layak yang dilakukan oleh pengusaha PT. Alpen Food Industry terhadap buruhnya. Bagi kami produksi barang kebutuhan manusia tidak seharusnya dilakukan dengan menindas manusia itu sendiri, apalagi es krim bukan merupakan kebutuhan vital manusia. Pengusaha tidak seharusnya melakukan pengerukan keuntungan sebesar-besarnya dan mengesampingkan nasib buruhnya.

Oleh karena itu, dengan ini kami menyatakan sikap kami mendukung buruh PT. Alpen Food Industry (ES KRIM AICE) untuk mendapatkan hak-haknya sebagai berikut:

  1. Kenaikan upah pokok dengan sekurang-kurangnya memasukan tunjangan jabatan, tunjangan masa kerja, tunjangan pendidikan dan penilaian karya.
  2. Menolak kerja sif malam untuk ibu hamil dan menyusui, serta usut dugaan tindak pidana atas perbuatan mempekerjakan ibu hamil dan menyusui pada malam hari sesuai Pasal 54 Perda Kabupaten Bekasi No. 4/2016 dan Pasal 187 UU Nomor 13 Tahun 2003.
  3. Pengangkatan 27 buruh PKWT menjadi buruh berstatus karyawan tetap atau PKWTT.
  4. Menolak mutasi sepihak, surat peringatan (SP) tanpa alasan dan SP bagi pekerja yang melakukan pemogokan, serta speed (kecepatan) mesin yang tidak manusiawi.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 29 Desember 2019

Komite Solidaritas Perjuangan Buruh (KSPB)


Pernyataan Sikap 8 Maret 2020: Mendukung Perjuangan Buruh AICE Memperbaiki Kondisi Kerja

Sejak 21 Februari 2020, sekitar 600 buruh es krim AICE, PT Alpen Food Industry melakukan pemogokan setelah gagalnya perundingan yang telah berlangsung sejak tahun lalu.…

Read More

Omnibus Law adalah Hukum untuk Menyenangkan Imperialis, Tolak dan Batalkan!

Saat ini pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin sedang berusaha mendesakkan Omnibus Law yang disebut sebagai Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU CIKA)—sebelumnya bernama RUU Cipta Lapangan Kerja alias…

Read More

Pernyataan Solidaritas untuk 18 Tahun Perjuangan 237 Buruh Toyota Filipina

Toyota Motors Philippines Corporation (TMPC) berdiri sejak Agustus 1988 di Bicutan, Paranaque City. TMPC membuka pabrik baru di Santa Rosa City, Provinsi Laguna pada November…

Read More
About the author

F-SEDAR: Serikat buruh yang memperjuangkan kesejahteraan buruh, demokrasi dan hak asasi manusia dalam perjuangan ekonomis dan perjuangan politik. Belajar, bekerja, berpolitik, sejahtera!

1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *