F-SEDAR Belajar, berpolitik, sejahtera!
4 Maret 2020 / 4 Comments / Posisi

Klarifikasi SGBBI atas Pemberitaan Melempar Berkas, Memotong Pembicaraan dan Tuntutan Upah Rp11 Juta

Berita yang menuduh buruh melempar berkas

Saya Fajar Junianto pengurus Serikat Gerakan buruh Bumi Indonesia (SGBBI) PT. Alpen Food Industry sekaligus Sekretaris Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR) dengan ini saya mengklarifikasi berita di media Kumparan yang menyebutkan:

  1. Bahwa saya melempar berkas ke meja pada waktu saya memberikan surat tanggapan atas pernyataan PT. Alpen Food Industry serta bukti-bukti ke kawan-kawan media.
  2. Bahwa kami memotong pemaparan dari pihak PT. Alpen Food Industry.
  3. Bahwa kami menggeruduk konfrensi pers PT. Alpen Food Industry.

(https://kumparan.com/kumparannews/buruh-geruduk-konferensi-pers-es-krim-aice-tuntut-kenaikan-upah-1svdX2EMGMq)

Bahwa pada tanggal 28 Februari 2020 saya datang menghampiri rekan media dan pihak perusahaan yang sedang jumpa pers bersama saudara Indra Permana secara baik-baik. Pertama-tama saya memperkenalkan diri, bahwa saya dan saudara Indra Permana adalah pengurus SGBBi dan perwakilan buruh PT. AFI ingin memberikan surat jawaban atas pernyataan PT. AFI. Saya memberikan surat klarifikasi dan bukti-bukti secara baik-baaik dengan sopan ke pada kawan-kawan media serta dari pihak perusahaan. Kami di sambut dengan baik oleh rekan-rekan media serta dipersilakan untuk duduk. Bahwa tidak benar ketika saya memberikan berkas dan bukti-bukti kepada pihak perusahaan dan kawan-kawan media itu dengan cara dilempar di meja. Bahwa tulisan di artikel di KUMPARAN yang menyatakan saya melempar berkas ke meja adalah BOHONG BESAR.

Bahwa kami tidak pernah memotong pemaparan dari pihak PT. Alpen Food Industry yaitu Simon Audry selaku legal corporate PT. Alpen Food Industry ketika jumpa pers. Setelah kami datang dan setelah memberikan bukti serta dokumen kemudian kami duduk mendengarkan pemaparan Simon Audry legal corporate PT. Alpen Food Industri kepada pihak wartawan. Kami diberitahukan bahwa kami diminta mendengarkan dan membiarkan pihak perusahaan memaparkan argumen serta pendapat mereka ke media. Setelah itu kami diberikan waktu untuk berbicara dan memberikan tanggapan dan pendapat kami. Kami baru berbicara serta menyapaikan pendapat ketika kami dipersilakan oleh rekan-rekan dari media. Jadi pernyataan pada arikel di KUMPARAN yang menyebutkan kami memotong pemaparan  Simon Audry legal corporate PT. Alpen Food Industry adalah TIDAK BENAR dan BOHONG BESAR.

Bahwa kami datang tidak untuk menggeruduk konfrensi pers antara pihak perusahaan dan media. Kami datang untuk menjelaskan semua fakta-fakta berdasarkan bukti-bukti yang ada. Kami membawa bukti dan saksi yaitu dari perwakilan  buruh perempuan (tim perunding masalah cuti dan buruh hamil), buruh kontrak yg menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), buruh yang dikenai surat peringatan serta skorsing menuju PHK, dan tim perunding masalah upah serta kuasa hukum agar kawan-kawan media serta pihak perusahaan dari pusat tahu fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan. Maka pernyatan dalam artikel kumparan yang menyatakan kami datang untuk menggeruduk adalah terlalu dibesar-besarkan.

Bahwa ketika pihak kami menyampaikan pemaparan, justru pihak perusahaan yang malah mau memotong pemaparan dari pihak buruh, yang tentu kami tolak. Yang akhirmya dari pihak perusahaan meminta maaf karena tadinya mau memotong pemaparan dari pihak buruh selanjutnya mempersilakan dari pihak buruh untuk melanjutkan pemaparan. Setelah pihak buruh selesai memaparkan pendapat serta memberikan bukti. Bahwa kemudian pihak perusahaan kembali menanggapi pemaparan pihak buruh. Dan kemudian akhirnya pihak buruh kembali menanggapi pemaparan perusahaan dan kemudian pihak perusahaan pergi meninggalkan acara konfrensi pers tersebut.

Bahwa ketika dari pihak perusahaan melakukan pemaparan ada salah satu dari pihak perusahaan yang mengaku sebagai support, memanggil dan mengajak saya serta saudara Indra untuk berbicara empat mata di luar. Bahwa dari orang tersebut berharap agar kita tidak menyampaikan pendapat kami dan mereka lah yang akan memberikan bukti-bukti ke kawan media. Dia berharap agar ada pembicaraan setelah acara pers tersebut.

Bahwa setelah pihak perusahaan meninggalkan acara konfrensi pers tersebut dari pihak kawan-kawan wartawan meminta berbicara dengan kami. Di situ kami kembali menceritakan dan memaparkan bahwa kasus yang beredar di media adalah sesuai fakta bahwa tuntutan kami baik soal upah, ibu hamil yang di pekerjakan di sif malam, mutasi, skorsing dan lain-lain ada dasar hukumnya dan tuntutan kami sudah sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku.

Bahwa kami juga mengklarifikasi mengenai beredarnya berita atau artikel yang menyebutkan SGBBI menuntut kenaikan upah sebesar Rp.11 juta dan hanya mau bernegosiasi  di sekitar angka Rp.8 juta. Berita tersebut tidak benar. SGBBI hanya menuntut rumusan upah terlebih dahulu untuk disepakati untuk jumlah presentase silakan perusahaan yang mengajukan atau mengusulkan.

Bahwa awalnya SGBBI mempresentasikan rumusah upah buruh adalah 15% dari sales adalah diperoleh angka 11 juta yang merupakan hitungan kasar. Dikarenakan pihak perusahaan tidak pernah terbuka soal pembukuan perusahaan sehingga kami membuat perhitungan sesuai dengan apa yang kami ketahui. Dan dari SGBBI sudah mengajukan permintan Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan (LKTP) ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), akan tetapi tidak ada tanggapan. Kami juga meminta Laporan LKTP ke PT. Alpen Food Industry akan tetapi tidak diberikan. Maka kami membuat perhitungan berdasarkan hasil barang yang diproduksi.

Bahwa dalam perundingan bipartit pihak perusahan merasa keberatan mengenai rumusan 15% dari sales itu dan meminta harus memberikan rumusan baru. Dan kami pun memberikan rumusan baru maka kami dari SGBBI memberikan rumusan baru bahwa upah pokok baru harus ada komponen golongan.jabatan, pendidikan, masa kerja, penilaian karya (kompetensi). Kami menyampaikan bahwa silakan kalau perusahaan menawar presentase saja jangan untuk rumusnya, karena rumus tersebut sudah sesuai dengan peraturan hukum (Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Perda Ketenagakerjaan Bekasi), namun pihak perusahaan selalu terpaku dengan nominalnya.

Bahkan dalam perundingan tanggal 19 Desember 2019 yang difasilitasi oleh Disnaker adanya adanya pemberitahuan pemogokan, kami kembali meminta pihak perusahaan agar menyepakati rumusan upah pokok baru terlebih dahulu. Mengenai angka/persentase dari masing-masing item silakan ditawar akan tetapi pihak perusahaan tidak mau menyepakati rumusan terlebih dahulu agar tidak terjadi pemogokan. Bahkan ketika kita kami sebelum mau melakukan pemogokan, kami pada tanggal 20 Februari 2020 memberikan surat pengajuan win-win solution ke perusahaan.

Jadi berita yang beredar bahwa kami sgbbi menuntut 11 juta atau komprominya 8 juta itu tidaklah benar. Itu hanya hitungan kasar bahwa yang kami tekankan adalah rumusan upah pokok baru terlebih dahulu agar sesuai peraturan hukum yang berlaku bahwa untuk persentase per item kami selalu membuka masukan dan usulan perusahaan berdasarkan kemampuan perusahaan asal disertai bukti dan fakta-fakta. Bahkan untuk rumusan Golongan, jabatan, Pendidikan, Masa kerja, dan Kompetensi itu sudah sesuai dengan undang-undang dan apa yang kami tuntut adalah normatif

Demikian klarifikasi ini kami buat atas perhatianya saya ucapkan terima kasih

#MogokSampaiMenang

#Salam30hari

Hormat saya

Fajar Junianto


Share:

Boikot FamilyMart

Pada hari ini, Minggu, 22 September 2019, Kami dari Komite Solidaritas Perjuangan Buruh (KSPB) kembali turun ke jalan untuk menyampaikan pandangan-pandangan dan pembelaan terhadap buruh…

Read More

Hentikan Kriminalisasi Buruh, Penuhi Haknya Atas Pekerjaan Tetap

Memperjuangkan Hak Bukan Kriminal, Kami Mendukung Buruh PT Trimitra Chitrahasta: HENTIKAN KRIMINALISASI BURUH, PENUHI HAK-HAKNYA ATAS PEKERJAAN TETAP Delapan buruh PT Trimitra Chitrahasta memperselisihkan permasalahan…

Read More

Bukan Ditunda, Omnibus Law Harus Dibatalkan Seluruhnya

Penundaan pembahasan Omnibus Law atau RUU Cipta Kerja kluster ketenagakerjaan tidak banyak gunanya karena pada akhirnya RUU ini akan dibahas dan disahkan juga oleh DPR.…

Read More
About the author

F-SEDAR: Serikat buruh yang memperjuangkan kesejahteraan buruh, demokrasi dan hak asasi manusia dalam perjuangan ekonomis dan perjuangan politik. Belajar, bekerja, berpolitik, sejahtera!

4 Comments

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *