[Media] Korban kecelakaan kerja di-PHK, ratusan buruh berdemo di Toyota

“Kami menilai lambatnya operasi hingga tertunda selama 19 jam sejak kejadian adalah karena kelalaian perusahaan dalam menyediakan kartu BPJS Ketenagakerjaan.”

Jakarta (Antaranews Megapolitan) – Sekitar 300 buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Denokratik Kerakyatan (SEDAR) mendatangi pabrik Toyota di Sunter, Jakarta Utara, Kamis (8/3).

Massa menuntut Toyota ikut bertanggung jawab atas pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap korban kecelakaan kerja Atika Nafitasari yang terjadi di PT Nanbu Plastics Indonesia (PT. NPI) yang beralamat di kawasan MM2100, Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Pasalnya, PT NPI adalah perusahaan subkontraktor tier 2 yang termasuk sebagai pemasok komponen ke Toyota. Dalam ‘code of conduct’ atau kode etik Toyota, Toyota mengharuskan perusahaan pemasoknya memenuhi hak
pekerja, hak asasi manusia dan tidak melakukan diskriminasi.

Selain itu, massa juga menuntut pengangkatan Atika Nafitasari dan delapan buruh kontrak lainnya menjadi karyawan tetap sesuai ketentuan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan jo. Permen 100/2004 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

“Kami datang ke Toyota karena konsep rantai pasokan di mana Toyota sebagai perusahaan induk harus  ertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di perusahaan pemasoknya. Toyota Global memiliki code of
conduct. Itu yang coba kami tagih,” kata Humas aksi, Sarinah.

Menurut Sarinah, pihaknya akan mengadukan masalah ini ke Kantor Pusat Toyota di Jepang apabila Toyota Indonesia tidak mampu menyelesaikan masalah ini.

“Kami akan memastikan Toyota Global dan pemilik PT. NPI, Nisshinbo di Jepang mengetahui masalah ini,” tandasnya.

Ketua Serikat Buruh Bumi Manusia PT. NPI (SEBUMI PT. NPI), Faisal Al Rahmad, mengatakan Atika mengalami kecelakaan kerja pada 26 September 2016, jarinya terpotong mesin press. Potongan jarinya sempat disimpan
di mesin pendingin. Pada saat kejadian, Tika belum memegang kartu BPJS Ketenagakerjaan. Padahal dia sudah bekerja selama delapan bulan.

“Kami menilai lambatnya operasi hingga tertunda selama 19 jam sejak kejadian adalah karena kelalaian perusahaan dalam menyediakan kartu BPJS Ketenagakerjaan. Karena terlambat, akibatnya jari Tika tidak bisa disambung lagi,” kata ungkap Faisal.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa dokter menyatakan kuku Tika tidak akan tumbuh lagi dan dinyatakan sembuh. Namun, kemudian kukunya tumbuh melengkung ke dalam tanpa penampang sehingga jarinya mengeluarkan darah dan bernanah.

Saat dibawa ke klinik Rizki di daerah Kaliabang, Bekasi Utara pada Desember 2017, dokter menyatakan jari Tika harus diamputasi satu ruas.

Sebumi mengadukan masalah ini kepada manajemen PT. NPI dan meminta agar Tika diangkat menjadi karyawan tetap dalam perundingan pada 10 Januari 2018. PT. NPI menolak tuntutan tersebut dan malah melakukan
PHK pada 19 Januari 2018.

“Perusahaan bilang mereka hanya melihat penilaian saja. Saya hanya minta hak saya di sini. Saya hanya minta keadilan di sini,” ucap Tika yang menangis saat berorasi.

Buruh juga telah mengadukan permasalahan ini ke Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II di Karawang, Jawa Barat, pada 13 Februari 2018. Selain itu, buruh juga telah melakukan unjuk rasa di depan Kantor BPJSK Kabupaten Bekasi pada 1 Maret 2018. Sementara, pengusaha PT. NPI masih belum bersedia memenuhi tuntutan buruh hingga berita ini diturunkan.

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Andi Firdaus
COPYRIGHT © ANTARA 2018 – Selasa, 13 Maret 2018 19:29 WIB

Sumber: Antaranews – https://megapolitan.antaranews.com/berita/37837/korban-kecelakaan-kerja-di-phk-ratusan-buruh-berdemo-di-toyota

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.