F-SEDAR Belajar, berpolitik, sejahtera!
27 November 2019 / 0 Comments / Blog

Makna Menjadi Anggota Serikat Pekerja Buat Saya

Saya akan menceritakan pengalaman pertama saya masuk ke dunia serikat pekerja. Pertama, perkenalkan nama saya Cecep, asal dari Tasikmalaya, pendidikan terakhir saya SMA. Sebelum saya bekerja di pabrik, saya pernah mengikuti tes TNI Angkatan Udara di Bandung. Dalam tes tersebut, saya gagal di tahap psikotes. Akhirnya saya mencari pekerjaan di Bekasi untuk menjadi buruh pabrik.

Awalnya saya tidak ingin bekerja di pabrik hanya sebagai operator biasa, karena waktu itu saya mengedepankan gengsi saya. Sedangkan, teman-teman saya di sekolahan dulu, saat itu banyak yang melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi. Tapi saya terdesak oleh kebutuhan dan ingin cepat bisa membantu ekonomi orang tua. Akhirnya, saya memaksakan diri untuk bekerja sebagai buruh pabrik.

Singkat cerita akhirnya saya diterima di sebuah perusahaan komponen otomotif yang beralamat di kawasan MM2100, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Saya diterima pada tanggal 27 Desember 2017 di mana awalnya saya dipekerjakan dengan status PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) atau banyak orang menyebutnya kontrak. Kontrak pertama saya selama enam bulan dan kontrak kedua juga sama selama enam bulan.

Kegiatan pertama setelah diterima di perusahaan ialah pengenalan profil perusahaan, serikat pekerja serta tentang keselamatan kerja di perusahaan. Yang membuat saya paling bertanya-tanya adalah kenapa di perusahaan harus ada serikat pekerja? Apa manfaatnya menjadi anggota serikat pekerja? Karena yang saya pikirkan saat itu adalah serikat itu hanya bikin rusuh (selalu demo) dan kurang bersyukur, padahal menurut saya gajinya sudah cukup besar. Waktu itu tahun 2017, gaji pokoknya sekitar Rp4,4 juta, masih saja mereka menuntut yang lebih besar.

Berjalannya waktu, ketika saya sudah masuk ke dunia pabrik, saya mencoba untuk berkomunikasi dengan salah satu rekan kerja saya yang menjadi anggota serikat pekerja atau serikat buruh. Saya ingin mengetahui tujuannya ada serikat itu untuk apa. Akhirnya setelah sekian bulan saya tahu sedikit-sedikit tujuan serikat pekerja. Tujuan terpenting yang saya dapat ialah untuk menyejahterakan buruh beserta keluarganya. Tapi masih ada yang menjadi pertanyaan bagi saya, kenapa harus demo atau menuntut upah terus. Itu pertanyaan yang harus saya cari tahu, supaya saya tidak menjadi orang yang su’udzon. Saat itu saya masih belum mau menjadi anggota serikat pekerja meskipun tujuannya yang sangat mulia.

Ketika saya menjalani kontrak kedua pada bulan November 2018, rekan kerja saya yang statusnya sama seperti saya yaitu sebagai kontrak mengajak saya untuk mempermasalahkan status kerja kita. Saya bertanya-tanya, dong, kenapa harus dipermasalahkan? Apa pelanggarannya?

Akhirnya setelah dijelaskan pelanggarannya, saya mengerti bahwa perusaahan itu  licik. Mereka hanya bisa menyuruh kita bekerja dan menjalankan kewajiban, tapi mereka malah tidak menjalankan kewajiban mereka untuk memenuhi hak-hak kita dan patuh pada peraturan yang berlaku di negara ini. Mereka  melanggar Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) Pasal 59 Ayat 2, bahwa PKWT tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Sedangkan kami dipekerjakan di bagian utama yaitu proses produksi dimana pekerjaannya itu bersifat tetap dan terus menerus.Dan saya bahkan tidak pernah menandatangani PKWT yang kedua sampai saya habis kontrak. Padahal menurut UU Ketenagakerjaan Pasal 57 Ayat 2 yang isinya “perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang dibuat tidak tertulis bertentangan dengan ketentuan sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan sebagai perjanjian kerja waktu tidak tertentu”.

Berkaca dari pengalaman saya, maka penting di suatu pabrik atau perusahaan harus ada serikat, yaitu untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan pekerja, serta memperjuangkan kesejahteraan bagi pekerja dan keluarganya.

Akhirnya saya setuju untuk menjadi anggota serikat. Tapi saya tidak ingin menjadi anggota serikat yang sudah ada, karena teman saya yang menjadi anggota serikat tersebut pernah mencoba untuk mengajukan permasalahnnya ke pengurus serikat. Tapi respon dari pengurus serikat tersebut tidak baik. Serikat ini menolak memperjuangkan permasalahan pelanggaran PKWT yang kami ajukan.

Akhirnya kami membuat serikat baru yang beranggotakan 22 orang, yang semua anggotanya adalah buruh kontrak. Kami membuat serikat dengan bantuan serikat di luar yaitu Federasi SEDAR di mana kami belajar tentang serikat, ketenagakerjaan dan masalah kita di perusahaan.

Selama proses perselisihan saya sedikit demi sedikit sadar atas penderitaan buruh yang sebenarnya dan pentingnya untuk berorganisasi atau menjadi anggota serikat. Alhamdulillah, sampai akhirnya perselisihan status kerja kami di perusahaan sudah selesai, karena istiqomah dalam ikhtiar dalam belajar dan bertindak.

Selama saya belajar di FSEDAR ternyata banyak buruh lain yang nasibnya sama seperti saya, banyak hak-haknya direnggut oleh pihak perusahaan. Setelah melihat dan merasakan penderitaan sebagai buruh, saya berkomitmen untuk serius belajar dalam bidang ketenagakerjaan atau dalam berorganisasi, supaya bisa mengadvokasi diri sendiri atau orang lain yang hak-haknya direnggut oleh perusahaan.

Pertanyaan-pertanyaan sebelum saya masuk serikat akhirnya terjawab sudah, kita sebagai buruh bukan kurang bersyukur tapi hak kita dan hasil kerja keras kita untuk menghasilkan suatu produk direbut oleh perusahaan. Dalam unjuk rasa juga ada aturannya yaitu Undang-Undang No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan Pendapat di Muka Umum, dan kebebasan berpendapat maupun berorganisasi adalah hak bagi setiap orang yang dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945.

Kita bekerja hanya sekedar mengkayakan si kaya, yaitu pemodal atau pemilik perusahaan, sehingga perusahaan semakin meluas dan maju. Tapi apa balasannya dari perusahaan? Bukannya lebih menyejahterakan buruhnya, tapi malah merampas hak buruhnya, termasuk hak buruh yang sudah diatur dalam Undang-Undang.

Pesan saya kepada buruh yang membaca ini, sadarlah kita itu sedang dibuat bisu oleh perusahaan dengan banyaknya lemburan, ditakut-takuti dengan PHK dan lain sebagainya. Setelah kalian sadar, maka bertindaklah! Jangan jadi buruh yang bisu, hanya diam saja ketika ditindas. Selama kita berjuang dalam kebenaran, jangan putus asa.

Blog adalah kolom yang berisi posisi-posisi individu pengurus, anggota maupun eksternal untuk bertukar-pikiran. 


Pengawas Ketenagakerjaan Datangi PT HRS Indonesia, Sekuriti Tutup Pintu Gerbang

Pihak Pengawas Ketenagakerjaan Wilayah II Jawa Barat berusaha melakukan pemeriksaan di PT. HRS Indonesia yang beralamat di Kawasan MM2100, Jalan Lombok 2 Blok O, Cikarang…

Read More

Pandemi dan Peringatan untuk Kapitalisme Global

Amir: ” Hari ini berapa yang mati?” Nyoto: “400 orang, Mas.” Percakapan seperti Amir dan Nyoto ini mungkin cukup lumrah kita dengar dalam waktu beberapa…

Read More

Kaitan Keberhasilan Perjuangan dengan Organisasinya

Organisasi perjuangan kaum buruh tidak lah boleh pasif, perannya bukan sekadar “mendidik” kaum buruh. Walaupun sebagian besar kerja-kerja organisasi perjuangan kaum buruh adalah menyebarluaskan propaganda,…

Read More
About the author

Cecep29:

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *