Arti Iuran Bagi Serikat Kita

Serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk untuk memperjuangkan kepentingan buruh. Apa itu kepentingan buruh? Begini, buruh hanya memiliki tenaga kerja untuk dijual kepada pengusaha. Hasil penjualan tenaga kerja itu diterima dalam bentuk upah. Sedangkan pengusaha sebagai majikan memiliki modal untuk berproduksi dan membeli tenaga kerja.

Masalahnya adalah ada banyak barisan pengangguran yang membutuhkan pekerjaan. Hal ini membuat daya tawar tenaga kerja buruh dalam pasar tenaga kerja menjadi rendah. Bentuk yang paling jelas dari persaingan itu di masa kini adalah buruh bisa rela membayar jasa calo untuk masuk kerja sekalipun hanya menjadi buruh dengan status kerja tidak tetap (kontrak/magang/harian). Biaya jasa calo dapat mencapai Rp3 juta bahkan lebih.

Majikan memanfaatkan persaingan di antara tenaga kerja untuk membayar tenaga kerja buruh dengan harga murah.

Untungnya hasil perjuangan buruh di masa lalu telah menghasilkan yang namanya Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK). Di Indonesia kita mengenal UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang sedikit bisa membuat buruh bernapas. Adanya kebijakan upah minimum, penggunaan buruh outsourcing dan perjanjian kerja waktu tententu (PKWT) yang dibatasi, kebebasan berserikat serta hak-hak normatif lainnya, membuat harga tenaga kerja tidak jatuh ke titik paling rendah.

Adanya UUK tidak serta merta membuat pengusaha mematuhinya. Butuh usaha lagi bagi buruh untuk memperjuangkan pemenuhan hak-hak normatif. Itulah mengapa buruh harus membentuk serikat pekerja untuk mengadvokasi hak-haknya sendiri.

Serikat buruh juga berfungsi sebagai sekolah untuk memberikan buruh pendidikan alternatif. Bayangkan saja, buruh bekerja 8 jam sehari, bahkan lebih jika mengambil lembur. Buruh tak punya banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mental berpikirnya.

Serikat pekerja inilah yang menyediakan pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk memajukan pikiran dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan buruh.

Dalam menjalankan berbagai kegiatan ini, organisasi apapun pasti membutuhkan dana. Dana ini digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan tersebut di atas dan perluasan serikat. Semakin tinggi tujuan sebuah serikat buruh, maka dana yang dibutuhkan semakin besar.

Itulah kenapa sebuah serikat harus menggalang iuran. Jumlah iuran biasanya adalah persentase tertentu dari upah. Banyak serikat yang menggunakan persentase satu persen (1%) dari nilai upah minimum. Misalnya, jika UMK sekarang sebesar Rp3,8 juta, maka iuran per bulan adalah Rp38.000. Ada juga yang membulatkannya menjadi Rp40.000.

Perluasan serikat mutlak perlu dilakukan mengingat salah satu kunci dari keberhasilan perjuangan buruh adalah solidaritas. Serikat buruh harus menggalang sebanyak mungkin sekutu dari berbagai pabrik dan sektor masyarakat. Dalam proses itu, kita saling membantu dengan buruh di pabrik-pabrik lain dan rakyat sektor lainnya sehingga gerakan  perjuangan semakin menguat. Kekuatan inilah yang dapat kita gunakan untuk memenangkan kesejahteraan yang lebih tinggi lagi.

Karena kita yakin bahwa sebab dari kemiskinan buruh dan rakyat Indonesia adalah akibat dari ketidakadilan. Sistem ekonomi yang tidak adil yang mengizinkan segelintir pemodal (kapitalis) mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan hanya memberikan sekecil-kecilnya kepada buruh. Kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah tidak bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia karena dikuasai oleh kapitalis, terutama kapitalis dari negeri lain. Perampokan ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, kita butuh kekuatan untuk melawannya.

Penggunaan Iuran

Iuran digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan organisasi seperti transportasi, alat-alat kantor, pengurus penuh waktu, pendidikan, advokasi, perluasan dsb. Anggota berhak mendapatkan laporan penggunaan dana. Serikat buruh  yang baik akan melaporkan pengeluaran secara rinci secara teratur kepada anggotanya.

Buruh tidak boleh menganggap bahwa dengan membayar iuran, maka urusan pun beres. Banyak buruh yang merasa tidak perlu aktif lagi dalam kegiatan serikat setelah membayar iuran. Sikap semacam ini sesungguhnya sangat merugikan serikat buruh. Ini adalah gagasan yang menganggap hubungan buruh dengan serikat adalah hubungan transaksional jual-beli.

Hal ini bisa terjadi karena buruh dipengaruhi oleh cara berpikir kapitalis, yakni dengan modal bayar iuran sekecil-kecilnya harus mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari serikat. Cara berpikir seperti ini sangat keliru, karena:

Pertama, iuran yang dikeluarkan buruh untuk serikat tidak seberapa apabila dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan apabila buruh menggunakan jasa pihak luar, seperti pengacara atau konsultan. Sehingga sangat keliru apabila anggota menganggap dapat “membeli” jasa serikat. Jika menggunakan jasa pengacara komersil, maka buruh bisa mengeluarkan biaya yang lebih besar hingga puluhan juta. Jasa pengacara tidak murah.

Contoh kasus: lima orang buruh menggunakan jasa pengacara untuk kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa mereka. Pengacara ini selalu meminta uang paling sedikit Rp2 juta sekali jalan. Saat uang buruh habis hingga Rp5 juta, buruh tak sanggup lagi membayar pengacara.

Contoh lainnya: Dalam kasus pesangon, para pengacara biasanya meminta biaya jasa minimal 40% dari nilai pesangon. Semakin banyak buruh yang dikenai PHK, maka semakin menguntungkan bagi pengacara untuk menangani kasus tersebut.

Bandingkan dengan iuran untuk serikat, di mana buruh hanya dikenai biaya Rp38 ribu per bulan. Ditambah dengan biaya-biaya lain seperti iuran untuk aksi hari besar seperti May Day atau kegiatan lainnya yang jumlahnya puluhan ribu, masih tetap lebih jauh lebih murah dibandingkan harus menggunakan jasa pengacara.

Saat serikat meminta komitmen anggota mengumpulkan dana Rp1 juta untuk membiayai pembangunan organisasi setelah berhasil memenangkan status kerja menjadi karyawan tetap (PKWTT), masih ada anggota yang merasa berat. Namun, mereka tidak merasa keberatan saat harus membayar jasa calo hingga Rp.3 juta.

Sebetulnya, yang membuat iuran itu nilainya kecil karena kita berserikat. Di dalam serikat, maka hubungan yang tercipta adalah hubungan kerja sama untuk mencapai kepentingan bersama. Jika menggunakan hubungan komersil, maka buruh harus mengeluarkan biaya advokasi sesuai dengan harga pasar yang mahal itu.

Kedua, dana hanyalah salah satu komponen yang dibutuhkan serikat dan gerakan buruh untuk maju. Lebih jauh lagi, serikat membutuhkan massa buruh itu sendiri untuk terlibat aktif dalam perjuangan sehari-hari. Tanpa mobilisasi massa buruh, maka serikat buruh tidak bisa membangun kekuatan untuk digunakan dalam menuntut.

Konsekuensinya, serikat buruh bisa kalah saat bertarung dengan majikan. Hal ini tentunya akan merugikan seluruh anggota, bahkan serikat buruh bisa bubar karenanya atau hanya tinggal papan nama saja. Serikat buruh yang tinggal papan nama memang eksis di atas kertas, tapi sudah kehilangan gigi dalam membela anggotanya. Serikat seperti ini justru banyak menganjurkan agar buruh tidak neko-neko dan terima saja segala keinginan pengusaha sekalipun merugikan. Kita tentu tidak menginginkan serikat seperti ini.

 

Problem yang paling sering terjadi dalam persoalan iuran adalah masalah transparansi iuran. Serikat buruh wajib mengeluarkan laporan penggunaan dana untuk anggota. Hal ini dilakukan tidak saja untuk memenuhi hak anggota atas informasi, tetapi juga agar anggota dapat belajar mengenai apa-apa yang dibutuhkan untuk membangun serikat pekerja.

Di FSEDAR, kita memiliki kebijakan menempelkan laporan keuangan di majalah dinding di sekretariat yang bisa dibaca oleh seluruh anggota. Kita juga memberikan laporan keuangan secara online atau dikirim ke grup online organisasi. Apabila ada pertanyaan boleh mengajukan langsung ke pengurus.

Menggalang Iuran

Dana serikat digalang dari anggotanya sendiri untuk menjamin kemandirian organisasi. Jika dana serikat buruh didapatkan dari pihak lain seperti pemerintah atau pengusaha, maka lama-kelamaan serikat buruh akan tergantung pada pihak pemberi dana. Ketergantungan ini dapat membuat serikat disetir oleh pihak pemberi dana.

Sebaik-baiknya sumber dana adalah dari iuran anggota yang dibayarkan oleh anggota secara aktif dan langsung.

Dewasa ini banyak serikat yang mendapatkan iuran secara payroll (pemotongan otomatis) dengan memberikan kuasa kepada perusahaan untuk melakukan pemotongan iuran. Kemudian iuran itu disetorkan ke rekening serikat pekerja. Dengan demikian, maka iuran selalu lancar masuk tiap bulannya ke organisasi tidak peduli apakah anggota yang bersangkutan aktif dalam kegiatan serikat pekerja atau tidak.

Kelemahan cara ini adalah, pengusaha dapat mengetahui kekuatan kas buruh dan dalam jangka panjang menciptakan semacam ketergantungan kepada pengusaha sebagai “penolong” dalam pemungutan iuran. Besarnya jumlah iuran juga tidak dapat dijadikan ukuran kekuatan serikat. Sebab, banyak anggota yang membayar iuran secara pasif, bahkan “tak sadar”. Besarnya uang iuran yang didapatkan serikat tidak berbanding lurus dengan banyaknya massa buruh anggota yang bersedia dikonsolidasikan dan dimobilisasi.

FSEDAR berupaya agar anggota membayar iuran secara aktif-langsung (manual) memiliki alasan tersendiri. Kita menginginkan agar anggota membayar iuran secara sadar kepada organisasi, bukan karena dipotong oleh pengusaha. Dalam proses ini, ada interaksi antara pengurus dan anggota yang memungkinkan adanya hubungan silaturahmi secara terus-menerus. Komitmen anggota diuji salah satunya dari kesetiaannya membayar iuran.

Memang, sisi negatifnya jika kesadaran anggota rendah maka pengurus akan dibuat seperti penagih utang saja. Banyak pengurus di tingkat pabrik mengeluhkan anggota yang menunda-nunda bahkan menolak membayar iuran. Kalau anggota malas membayar iuran, maka serikat bisa kekurangan uang kas. Kadang-kadang iuran itu juga bisa tidak sampai ke bendahara karena digelapkan di tengah jalan. Kita pernah mengalami masalah ini di masa lalu, tapi kita selalu berusaha mengatasinya. Berbagai penyadaran dan sidang sudah kita lalui.

Tak apa-apa. Bagi kita, uang bukan satu-satunya, butuh lebih dari sekadar itu untuk membesarkan serikat. Kita membangun serikat bukan mengejar iurannya, tapi kesadaran anggota. Membayar iuran secara aktif-langsung adalah salah satu ukuran adanya kesadaran berserikat. Teknis bagaimana cara yang paling efisien tapi sekaligus mempertahankan tradisi membayar iuran secara aktif-langsung inilah yang harus terus-menerus kita pertajam.

Apabila anggota tidak membayar iuran, maka serikat dapat juga menolak memberikan pembelaan saat anggota yang bersangkutan terkena masalah. Karena ingat, di dalam berserikat ada hak dan kewajiban. Tanpa menunaikan kewajiban, jangan menuntut hak.

Sekian, semoga dimengerti.

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *