F-SEDAR Belajar, berpolitik, sejahtera!
6 Juli 2020 / 3 Comments / Blog

Polisi Serang Pemogokan Buruh TNT/FedEx di Dekat Milan

Pemogokan buruh SI Cobas

Pada malam 9 Juni, kepolisian menyerang dengan kekerasan tenda perjuangan buruh di Peschiera Borromeo, gudang TNT/FedEx di dekat Milan, yang menunjukkan, sekali lagi, peran negara yang secara langsung mendukung kepentingan korporasi dalam melawan kelas pekerja, dan melawan buruh migran khususnya, di mana pekerja yang paling banyak di tempat ini berasal dari negeri-negeri berbahasa Arab.

Perjuangan di TNT/FedEx dimulai pada 3 Mei melawan pemecatan sekitar 1000 buruh tidak tetap dari Adecco, yang 66 orang di antaranya telah bekerja di gudang itu selama 5 tahun, dan seharusnya dipekerjakan (langsung) oleh TNT/FedEx berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada Maret bersama serikat SI Cobas.

Mengikuti kegagalan TNT/FedEx mempekerjakan 66 pekerja, pada 3 Mei, SI Cobas menyerukan pemogokan di seluruh gudang TNT dan pendudukan pekerja di pabrik Peschiera Borromeo; pada 6 Mei polisi meluncurkan serangan militer melawan para pekerja, dengan 11 mobil van bersenjata dan hampir 200 orang polisi dan carabinieri yang memasuki gudang untuk mengusir pekerja yang mogok.

Intimidasi ini tidak berhasil. Pekerja dan serikat mereka, SI Cobas tidak menyerang balik, tapi menyerukan pemogokan yang lain, memaksa perusahaan untuk berunding di meja negosiasi, walaupun hanya untuk menawarkan pensiun dini secara sukarela. Tapi pekerja menginginkan pekerjaan, bukan uang, dan tetap melanjutkan perjuangan mereka, dengan mogok dan piket (mendirikan tenda perjuangan) pada malam hari dari tanggal 9 sampai 10 Juni, bergabung dengan rekan-rekan mereka di Bologna dan Reggio Emilia, dan berulang pada malam berikutnya, ketika penyerangan polisi terjadi.

Pernyataan berikut ini dirilis pada malam penyerangan:

Bagaimana sebuah perselisihan perburuhan berubah menjadi malam kekerasan terhadap pekerja?

Kondisi buruh SI Cobas pasca represi polisi dan polisi militer

Pada saat ini, kami hanya ingin meneriakkan kemarahan dan kesakitan kami karena rekan-rekan pekerja kami terluka dan pingsan setelah tendangan, pukulan dan pentungan polisi dan carabinieri, tapi kami tetap dan akan tetap jernih untuk secara tegas mencela bagaimana perselisihan perburuhan “biasa” telah berubah menjadi malam kekerasan dan represi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berlatarbelakang pemutusan hubungan kerja (PHK) politis terhadap 80 pekerja yang dipekerjakan pada hub logistik yang penting di FedEx/TNT di Peschiera Borromeo, dekat Milan Italia.

80 pekerja bersama keluarga mereka dihempaskan menjadi pengangguran dari hari ke hari mengabaikan pra-kesepakatan dengan serikat pekerja mengenai keberlanjutan hubungan kerja mereka.

Alasan tidak resmi adalah, buruh secara sadar bergabung dalam pemogokan 1 Mei yang diserukan oleh SI Cobas untuk membela kesehatan, kehidupan dan kondisi kerja melawan infeksi Covid-19.

Seperti banyak pekerja lainnya di sektor logistik dan perawatan kesehatan, faktanya, mereka tidak pernah berhenti bekerja selama periode karantina, menempatkan kesehatan dan kehidupan mereka dalam resiko ketika mengirimkan barang-barang yang tidak dibutuhkan ke rumah-rumah pembeli — ‘pahlawan’ ini, sebagaimana mereka disebut, telah berkorban demi profit yang diakumulasikan oleh korporasi logistik, dalam hal ini sebagai pekerja sekali pakai untuk FedEx, korporasi Amerika Serikat yang tidak ingin mendengarkan hak-hak pekerja dan serikat pekerja. Lusinan pekerja logistik terkena Covid-19, beberapa adalah anggota SI Cobas, termasuk beberapa perwakilan pekerja (shop stewards) meninggal karenanya. Modal menggiling tubuh dan nyawa kami, membuat profit darinya…

Setelah beberapa hari pemogokan (bukankah mogok diakui sebagai hak asasi manusia?) di Peschiera Borromeo, lokasi FedEx/TNT, sebuah pemogokan nasional seluruh rantai pasokan diserukan oleh SI COBAS, yang mengorganisir sebuah piket (tenda perjuangan) di gerbang gudang-gudang di Peschiera Borromeo.

Segera setelah makan malam di tenda perjuangan, sekitar seratusan pekerja dan pendukungnya berkumpul di lapangan di depan gerbang, tapi sekitar jam 11.00 pm, tujuh mobil van polisi bersenjata dan carabinieri (pasukan polisi militer) tiba, ditemani oleh beberapa petugas polisi dan agen polisi berpakaian preman (Digos). Organiser dan delegasi SI Cobas memulai negosiasi yang menghasilkan permintaan bertemu di Prefektur, untuk memverifikasi kondisi perusahaan demi sebuah kesepakatan yang memungkinkan.

Nampaknya hasil positif di saat terakhir! Namun, selagi kami menunggu hasil dari pembicaraan dengan kantor pusat Prefektur, polisi tiba-tiba mulai maju. Agar tidak membuka dakwaan melarikan diri yang membahayakan, seluruh peserta piket duduk di lantai.

Kami dengan cepat memahami bahwa perintah mereka adalah menyakiti dan meninggalkan tanda di tubuh kami, saat mereka dengan pukulan, tendangan, pentungan menghujani kami dengan kemarahan tak terkendali di kepala, lengan, punggung pekerja yang bertangan kosong (tidak bersenjata), yang sengaja menentang tanpa perlawanan, tapi saling menjaga satu sama lain secara erat dengan siku mereka untuk melawan pukulan.

Ketika polisi dan carabinieri mampu memecah belah pemogok menjadi dua kelompok, yang satu didorong menjauhi gerbang, yang satu ke lapangan, serangan membabi-buta dan sangat keras dilancarkan terhadap orang-orang yang (mencoba) mendekati kawan-kawannya yang terjatuh untuk menyelamatkan mereka. Ada beberapa orang yang terjatuh ke tanah, yang kemudian polisi pukuli dengan cara pengecut dengan pentungan saat mereka berusaha berdiri.

Serangan terus berlanjut, mendorong pekerja dan aktivis sejauh beberapa meter, kemudian berbalik menyasar kelompok pekerja yang tidak dapat bergerak, diserang saat berada di antara gerbang dan barisan polisi/carabinieri.

Kedatangan 5 mobil ambulan dan sebuah mobil dengan dua dokter dari klinik — kami berterima kasih atas seluruh kebaikan dan solidaritas mereka — menghentikan penjagalan itu dan menyelamatkan banyak pekerja yang jatuh dan pingsan, karena pukulan-pukulan yang mereka terima. Jari yang patah, lebam di kepala dan punggung, berbagai goresan dan memar; daftar yang akan terlalu panjang untuk disebutkan… Dan kami tidak akan melupakan seorang pekerja yang dipegangi lengan dan kakinya, serta dilempar dari tempat tinggi ke tanah dengan sangat keras hingga kepalanya terbentur dan jatuh pingsan, kemudian memukuli dengan kebencian kepada siapa saja yang mendekat untuk menyelamatkan dan menjauhkannya dari pukulan-pukulan lagi — seorang pengurus serikat buruh dilemparkan ke tanah dan terbentur dengan keras di kepalanya, jatuh pingsan.

Bertahun-tahun kami terbiasa dengan represi dan kekerasan negara, tapi malam ini, kami ditargetkan dengan level kekerasan yang lebih keras dan sistematik, bertujuan menyebarkan ketakutan di kalangan pekerja, memberikan pukulan dan memberangus serikat mereka, SI Cobas.

Tapi mereka salah. Level kekerasan yang menjijikkan ini membuat pekerja bahkan lebih mengerti bahwa perjuangan kelas ini, dan ketakutan para majikan terhadap perjuangan kelas karena mempertanyakan kekuasaan kelam dan profit menjijikkan mereka.

Malam yang menyedihkan ini hanya meningkatkan kebanggan pekerja yang tidak merasa sebagai budak atau binatang yang diperas, dan pada akhirnya menjadi protagonis dari takdir mereka sendiri untuk mengambil kembali martabat, melawan kembali secara berdampingan satu sama lain dalam solidaritas terlepas dari perbedaan warna kulit, agama, gender untuk membela hidup, upah dan keluarga mereka.

Pertemuan yang diadakan di gerbang memutuskan perjuangan terus berlanjut, dengan janji untuk kembali ke depan gerbang yang sama, lebih dari sebelumnya, menyadari solidaritas adalah senjata terkuat di tangan para pekerja — “satu tersakiti, semua ikut tersakiti”.

Perjuangan terus berlanjut!

SI Cobas
Pakta Aksi untuk front persatuan kelas pekerja

***

Diterjemahkan oleh Sarinah dari: Police violence against TNT/FedEx striking workers near Milan

Blog adalah kolom yang berisi posisi-posisi individu pengurus, anggota maupun eksternal untuk bertukar-pikiran. 


Share:

Pandemi dan Peringatan untuk Kapitalisme Global

Amir: ” Hari ini berapa yang mati?” Nyoto: “400 orang, Mas.” Percakapan seperti Amir dan Nyoto ini mungkin cukup lumrah kita dengar dalam waktu beberapa…

Read More

Kaitan Keberhasilan Perjuangan dengan Organisasinya

Organisasi perjuangan kaum buruh tidak lah boleh pasif, perannya bukan sekadar “mendidik” kaum buruh. Walaupun sebagian besar kerja-kerja organisasi perjuangan kaum buruh adalah menyebarluaskan propaganda,…

Read More

Venezuela: Lingkaran Bolivarian, Pendorong dan Pelindung Revolusi

Pada Desember, 1998, Hugo Chavez terpilih menjadi Presiden Venezuela dengan 56 persen perolehan suara. Empat bulan kemudian, 88 persen pemilih Venezuela menyetujui referendum dibentuknya Dewan…

Read More
About the author

SI Cobas:

3 Comments

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *