Menolak PHK Sepihak terhadap Buruh Gudang FamilyMart; Pemogokan 18 Hari Buruh Gudang FamilyMart

Per 19 September 2018, manajemen perusahaan gudang FamilyMart, PT. Fajar Mitra Indah (FMI) yang berlokasi di Desa Sukadanau, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak terhadap tiga buruh perempuan yang berstatus sebagai buruh harian lepas (BHL). Manajemen perusahaan memaksa buruh menerima pesangon. Buruh menolak tawaran tersebut hingga petugas sekuriti sempat melarang buruh keluar dari pabrik.

Pada awalnya, tiga buruh perempuan FamilyMart ini adalah korban pembayaran upah di bawah ketentuan upah minimum.Buruh hanya diupah Rp13.000 per jam, padahal sesuai SK Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep-1065-Yanbangsos/2017 tentang Upah Minimum di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, buruh seharusnya dibayar Rp.22.800 per jam. Dalam satu bulan, seorang buruh menderita kerugian sedikitnya Rp.1.029.000. Nilai uang ini sangat berarti bagi buruh perempuan karena mereka bukan pencari nafkah tambahan. Dalam kasus ini, Family Mart tidak saja merampas hak buruh, tapi juga mengeksploitasi kaum perempuan.

Menurut Kepmenakertrans No. 100/2004, buruh juga seharusnya diangkat menjadi karyawan tetap karena hukum ketenagakerjaan Indonesia melarang buruh harian dipekerjakan secara terus-menerus lebih dari 21 hari selama 3 bulan berturut-turut. Perbuatan pengusaha yang membayar upah di bawah ketentuan adalah perbuatan pidana yang yang diancam dengan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) sebagaimana diatur dalam Pasal 90 jo. Pasal 185 UU No. 13/2003.

Dalam perundingan bipartit ketiga yang berlangsung pada 15 Agustus 2018 yang berakhir tanpa kesepakatan (deadlock), pengusaha menolak mengangkat 26 buruh menjadi karyawan tetap dan menyetujui membayar kekurangan upah tiga buruh BHL tersebut. Yang berarti, perusahaan telah mengakui terjadinya pelanggaran dengan bersedia bertanggung jawab secara perdata. Namun, perusahaan melakukan tindakan balasan dengan melakukan PHK sepihak.

Sebagai akibat dari gagalnya perundingan, buruh melakukan pemogokan pada tanggal 21 September 2018 sampai dengan 8 Oktober 2018 untuk mendesak agar PT. FMI dan FamilyMart menjalankan ketentuan hukum ketenagakerjaan.

Perlu diketahui, PT. FMI adalah anak perusahaan Wings Group yang bekerjasama dengan FamilyMart, ritel asal Jepang untuk melakukan ekspansi FamilyMart di Indonesia. Saat ini, FamilyMart telah mendirikan 103 toko ritel. Sudah selayaknya apabila suatu investasi dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia dan tidak dengan mengabaikan hak-hak buruh.

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.