Sikap May Day 2020

Sikap May Day 2020

Pada tahun ini, kita tidak bisa merayakan May Day sebagaimana biasanya karena pandemi Covid-19 yang mengancam nyawa kita, khususnya kelas pekerja dan rakyat miskin yang jauh dari hidup layak dan jaminan kesehatan. Pemerintah membatasi kerumunan, termasuk unjuk rasa dan pemogokan, yang kita yakini bukanlah alasan kita untuk takut melakukan aksi turun ke jalan.

Memang kebanyakan alasan kita adalah masalah keselamatan yang belum memiliki jalan keluar yang jelas, mengingat pandemi virus korona ini masih baru dan belum ada obatnya, termasuk belum ada solusi yang jelas mengenai bagaimana kita bisa beraktivitas seperti biasa dengan jaminan keselamatan yang pasti.

Kami, FSEDAR, telah mencoba melakukan aksi sejak awal April lalu, dengan cara mengenakan masker dan menjaga jarak. Kami aksi di beberapa pabrik di Cikarang, termasuk di depan pabrik es krim AICE yang penuh skandal penindasan terhadap pekerjanya. Lebih dari 400 pekerja berbaris berjarak satu sama lain di depan pabrik AICE, PT. Alpen Food Industry. Yang lebih menggembirakan kami, aksi ini tidak mendapatkan penolakan dari publik saat dipublikasikan di media sosial. Kami tahu kekhawatiran rakyat sangat besar terhadap virus korona dan potensi penularan yang dihasilkan oleh kerumunan.

Meskipun empat pengurus kami sempat dipanggil oleh kepolisian untuk ditanyai selama 18 jam pada 3 April 2020, tidaklah membuat kami lantas menjadi takut. Karena, penting sekali untuk menjaga perlawanan di saat-saat seperti ini. Adalah perlu juga kita sadari potensi krisis dan kelaparan di depan mata yang khususnya akan menimpa rakyat negeri kita, adalah seharusnya lebih menakutkan.

Ketika kita berbicara tentang perlawanan tahun 2020 ini, kita bukan saja berbicara soal kekalahan saja apabila kita gagal, tapi kita sedang membicarakan kepunahan umat manusia. Kebanyakan dari kita mungkin tidak menyadarinya atau terlalu pragmatis untuk berbicara hal yang jauh di depan dan hanya fokus pada keuntungan sesaat yang ada dekat di depan. Padahal, kepunahan itu tidak akan jauh di depan, mungkin sekali sangat dekat dengan leher kita.

Hari ini kita hidup di bumi yang dikuasai oleh sistem kapitalisme. Segalanya berbasis pada kepemilikan kekayaan pribadi dan penguasaan alat-alat produksi serta sumber daya yang terkandung di dalam bumi. 99 persen manusia hanya memiliki tenaga dan harus bekerja untuk orang lain agar tetap hidup, sedangkan satu persen manusia memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan orang lain untuk mencetak keuntungan yang ditumpuk untuk dirinya sendiri.

Banyak di antara kita yang mensyukuri ini karena melihat terciptanya lapangan pekerjaan. Logika yang sama digunakan oleh pemerintah untuk meyakinkan kita agar menerima Omnibus Law. Di saat yang sama mereka juga berteriak akan menggantikan kita dengan mesin-mesin, sehingga lapangan pekerjaan menjadi terus berkurang, karena automasi dilakukan tanpa mengurangi jam kerja secara signifikan..

Mereka juga menjauhkan kita dari kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian dan perumahan. Lihat bagaimana untuk kepentingan mencetak keuntungan pengusaha, berapa banyak lahan yang dirampas, petani yang disingkirkan dan sumber-sumber pangan lokal serta ekosistemnya, dihancurkan. Kita menjadi sepenuhnya bergantung pada upah untuk bertahan hidup. Sementara kemampuan upah untuk membeli barang terus merosot karena harga barang yang meningkat, walaupun secara nominal nilai upah naik setiap tahun.

Dalam produksi massal kapitalisme, mereka menghasilkan residu (sampah) yang sangat besar, yang dipicu oleh persaingan satu sama lain. Coba bayangkan bagaimana 6 juta potong es krim diproduksi setiap hari di pabrik AICE, yang artinya menghasilkan 6 juta potong sampah plastik setiap harinya. Ini baru dari satu pabrik, bagaimana jika ditambah dengan jutaan pabrik lainnya? Produksi massal inilah kunci dari menghasilkan barang yang sangat murah, sehingga bisa menang di pasar, sehingga produksi dilakukan untuk membanjiri pasar dengan produk paling murah, bukan untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat.

Hari ini kita menghadapi pandemi akibat dari terdesaknya kehidupan alam liar. Aktivitas produksi yang berlebih, sangat agresif dalam menginvasi alam. Tak terbayangkan pada tahun-tahun ke depan apa yang akan kita hadapi karena krisis iklim. Tentunya krisis yang lebih parah lagi.

Dalam situasi krisis, apakah karena perang atau wabah, para pekerja akan ditaruh di garis depan untuk tetap bekerja meskipun hal itu mempertaruhkan nyawa pekerja. Kenapa demikian? Karena kebanyakan kita yang tak punya apa-apa selain tenaga kita, begitu bergantungnya pada upah. Ketergantungan ini semakin diperdalam dengan utang hingga ratusan juta ke lembaga kredit dan bank yang harus kita bayar selama puluhan tahun.

Di saat yang sama, di negeri kita, ada empat orang terkaya yang jumlah kekayaannya setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin; satu persen orang terkaya menguasai 50 persen aset nasional. Di seluruh dunia, kekayaan 2.153 orang terkaya setara dengan kekayaan 4,6 miliar penduduk termiskin.

Dalam situasi yang sulit saat ini, pemerintah menjual surat utang lebih banyak lagi ke swasta. Pemerintah menargetkan menjual surat utang Rp40 triliun. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya kekayaan yang dihasilkan dalam produksi sebenarnya ada, tapi di simpan di kantong-kantong orang terkaya. Kekayaan itu, dalam sejarahnya, adalah tumpukan tenaga manusia pekerja.

Ketimpangan inilah yang sedang terus diperkuat oleh negara dengan akan mengesahkan RUU Cipta Kerja dan semakin membungkam kita dengan mengesahkan RKUHP. Ada banyak regulasi lain yang ditujukan untuk semakin mengokohkan ketimpangan dan ketidakadilan.

Hingga manusia melihat keberuntungannya di atas ketidakberuntungan orang lain. Kita menjalani hidup saling rampas dan saling menjatuhkan untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya lebih baik jika dibagi bersama secara adil, dengan mempertimbangkan kekayaan di bumi ini seharusnya milik umat manusia dan manusia bekerja secara bersama-sama untuk mengolahnya.

Kita memahami distribusi kekayaan melalui berbagai aksi penggalangan sumbangan dan kita merasakan hasilnya mampu membantu, yang sayangnya, masih sebagian kecil orang dari sekian banyak yang bisa kita bantu dan tidak berkelanjutan. Karena redistribusi kekayaan itu tidak berakar dari pembagian hasil kerja yang lebih adil yang seharusnya dipraktikan dalam dunia kerja dan distribusi kekayaan pribadi yang seharusnya dilakukan saat ini dengan menagih pajak yang lebih besar kepada orang-orang terkaya.

Mungkin saja pernyataan ini akan ditertawakan karena adanya solusi-solusi mudah dan tambal-sulam dari pendukung sistem yang sedang berjalan ini. Tapi, pada akhirnya, cepat atau lambat, kita akan sampai pada situasi untuk mengambil jalan yang lebih radikal atau punah karena kegagalan kita memanusiakan manusia agar layak hidup dengan bergandengan tangan dengan alam. Saat hari itu tiba, apakah pada masa pandemi atau setelah pandemi, kita selalu bisa mengambil jalan pemogokan sebagai cara melawan.

Di tengah pandemi, mogok terorganisir adalah hari baik untuk melawan.

Bekasi, 1 Mei 2020 – Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (FSEDAR)

Share this post

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.